Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Tuesday, October 14, 2014

Ambisi Menjadi Pemimpin

Bismillahirahmairrahiim.
Akhir-akhir ini makin marak manusia berlomba-lomba dan berambisi untuk menjadi seorang pemimpin, bahkan tidak jarang cara-cara kotor dan curang dilegalkan demi memenuhi ambisinya, money politic digunakan sebagai senjata pamungkas untuk memenuhi hasratnya menjadi pemimpin. Itulah topik obrolan gayeng yang kudengar dari Bakrie, Nazar, Udin dan Jayus di warung kopi Bu Miranda dekat rumahku. 

Empat lelaki paruh baya lagi asyik berdiskusi masalah kondisi negara, masalah BBM, politik, ekonomi juga masalah pemimpin negara, aku hanya jadi pendegar yang baik atas pembicaraan mereka sambil sesekali senyum-senyum mendengar kelucuan atas analisanya. Dari diskusi ngalor-ngidulpun akhirnya sampai pada bahasan tentang ambisi menjadi pemimpin dalam Islam, "wah sepertinya topik yang menarik nih" kataku dalam hati, sembari nyerutup kopi hangat.

Memang tidak diragukan lagi, salah satu penyakit bagi seorang muslim dan penyebab terganggunya perjuangan islam adalah penyakit ambisi menjadi pemimpin, atau berusaha untuk diangkat jadi pemimpin, terinspirasi dari obrolan di warung kopi tersebut, maka kali ini aku mencoba membahas tentang bagaimana ambisi menjadi pemimpin dilihat dari kaca mata Islam.

pict from here
Sebelum membahas lebih jauh ada baiknya kita mengetahui dulu tentang makna ambisi menjadi pemimpin, ditinjau dari segi bahasa, bisa diartikan sebagai rasa cinta dan suka menjadi yang terdepan diantara yang lainnya, bahkan kalau perlu dia akan meminta dengan terus terang untuk dijadikan yang terdepan. Sedangkan kalau ditinjau dari segi istilah adalah  kecenderungan hati untuk menjadi pemimpin dan meminta terus agar dipilih menjadi pemimpin

Bagaimana menurut pandangan Islam?

Masalah ini sering terjadi perbedaan pendapat, seperti halnya yang terjadi di warung kopi semalam, kubu pertama memakai hadist berdasarkan sabda Rasulullah kepada Abdurrahman bin Samurah, sedangkan kubu yang lain berdasarkan firman Allah di Surat Yusuf : 55.

Tidak dipungkiri keinginan untuk jadi pemimpin dalam pandangan Islam adalah adalah sesuatu yang tercela dan dilarang, bahkan pelakunya mendapat ancaman yang cukup berat. Banyak dalil-dalil yang menggambarkan tercelanya meminta dijadikan pemimpin.

Rasulullah Bersabda: "Demi Allah, saya tidak akan menyerahkan jabatan kepada orang yang meminta untuk diangkat dan tidak pula pada orang yang berharap-harap untuk diangkat" (HR. Bukhari & Muslim)

Rasulullah juga bersabda kepada Abdurahman bin Samurah ra.
"Wahai Abdurrahman, jangan engkau meminta diangkat menjadi pemimpin karena permintaanmu sendiri, tanggung-jawabnya akan besar sekali, dan jika engkau diangkat bukan karena permintaanmu sendiri, engkau akan mendapat pertolongan dalam melaksanakannya" (HR. Bukhari & Muslim)

Mungkin akan muncul pertanyaan bagaimana dengan yang dlakukan Nabi Yusuf as. saat meminta jabatannya?

"Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan." (QS.Yusuf : 55)

Juga bagaimana seorang muslim yang memohon kepada Allah menjadi terhormat dan menjadi cendekiawan terkenal atau menjadi imam bagi musllim lainnya, seperti Firman Allah:
"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (QS Al Furqan : 77)

Sekilas ada kontradiksi antara hadist Rasulullah dengan Firman Allah diatas, padahal jika dikaji lebih mendalam tidak ada kontradiksi sama sekali. Nabi Yusuf as. meminta dan menonjolkan dirinya untuk suatu jabatan karena beliau melihat tidak ada seorangpun yang mau berkomitment memperjuangkan kebenaran dan mengajak umat pada kebenaran, beliau merasa mampu tapi belum dikenal masyarakat, maka perlu meminta untuk menonjolkan dirinya. Kesimpulpulannya Nabi Yusuf as. meminta jabatan dalam keadaan darurah.

Jadi bila dalam keadaan darurah, karena orang tidak ada lagi yang berkomitment tentang kebenaran, bila diantara kita punya kemampuan lebih dalam suatu bidang, maka diperbolehkan untuk mengajukan diri untuk menjadi pemimpin, dengan catatan memang benar dalam keadaan darurah, artinya apabila dibiarkan akan berdampak yang lebih buruk, dan meminta menjadi pemimpin bisa mendatangkan manfaat dibanding mudharatnya, maka insya Allah diperbolehkan, tentunya dengan diniatkan semata-mata untuk Allah Ta'ala serta bersungguh-sungguh untuk menegakkan kebenaran dan menjaga amanah.

Demikian pula dengan permohonan si Muslim meminta untuk diangkat menjadi imam (pemimpin) bagi umat muslim yang lain (QS. Al Furqan : 77), ayat tersebut hakekatnya tidak bertentangan dengan sabda Rasul diatas, karena permohonan muslim untuk menjadi pemimpin merupakan permohonan sang hamba kepada Allah bukan kepada sesama manusia, sedangkan kita boleh memohon apapun kepada-Nya selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariat, jadi sebab-sebab antara hadist dengan Firman Allah, sangat berbeda dan tidak bisa dibenturkan.

Sedangkan kontek asbab dari sabda Rasulullah kepada Abdurrahman bin Samurah adalah jika kita meminta untuk menjadi pemimpin, dengan cara tersamar maupun terus terang kepada orang lain, apalagi dengan niat untuk mendapatkan keuntungan pribadi maupun golongan, maka yang demikian dilarang keras oleh Islam.

Beberapa Faktor yang mendorong seseorang berambisi menjadi pemimpin.
  1. Suka menguasai dan mengendalikan orang lain karena keegoannya, tidak mau di perintah dan patuh kepada orang lain, maka seseorang berambisi menjadi pemimpin agar orang mengagungkan dan memandang sebagai yang terhebat

  2. Menginginkan materi duniawi, sebagian manusia ingin mendapatkan materi dengan mudah tanpa memperhatikan masalah halal dan haram, maka dengan menjadi pemimpin, akan menganggap setiap orang bersedia untuk membantu mendapatkan materi.

  3. Tidak sadar akan resiko sebagai pemimpin, sesungguhnya resiko seorang pemimpin harus siap menanggung kesulitan rakyatnya disaat genting dan mementingkan kepentingan rakyat atas dirinya sendiri disaat normal, seperti yang disampaikan sahabat Ali bin Abi Thalib

    "Apabila keadaan genting dan terjadi peperangan, maka kami berlindung kepada Rasulullah, tidak ada seorangpun diantara kami yang lebih dekat dengan musuh, dibanding Beliau" (HR Ahmad)

  4. Tidak sadar akan konsekwensi kelengahan seorang pemimpin, kelengahan seorang pemimpin bisa membuka jalan kepada kebathilan, serta menjadikan pendukungnya sebagai alat untuk menebark`n kerusakan di muka bumi, maka pemimpin seperti itu diakhirat nanti akan diikat dengan rantai dan dilemparkan ke neraka.

    "Seorang hamba yang dipercaya Allah untuk menjadi pemimpin rakyatnya, tetapi ia menipu rakyatnya, maka jika ia mati Allah mengharamkan surga baginya" (HR Bukhari dan Muslim)

  5. Suka Merendahkan orang lain, sebagian manusia ada yang menerima doktrin-doktrin dalam pendidikannya serta menanamkan dalam jiwanya kecintaan terhadap penguasaan dan merendahkan terhadap orang lain dan ia melihat dengan cara menjadi pemimpinlah ia bisa memenuhi ambisinya dan dapat terpuaskan nafsu-nafsu ambisinya.
Mungkin yang aku sebutkan diatas hanyalah sebagian kecil dari faktor pendorong seseorang berambisi menjadi pemimpin, jika diuraikan masih banyak lagi dan tidak akan ada habisnya, semoga tulisan ini sebagai pengingat untuk kita semua terutama diriku sendiri, agar lebih berhati-hati dalam bersikap dan bertindak  khususnya tentang sikap ambisius kita untuk menjadi pemimpin.



Hadits riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu:
Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda:
Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin
Dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin.
Seorang raja yang memimpin rakyat adalah pemimpin
Dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya.
Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya
dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka.
Seorang istri juga pemimpin bagi rumah tangga serta anak suaminya
Dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya.
Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya,
dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya.
Ingatlah! Masing-masing kamu adalah pemimpin
Dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggung jawaban
atas apa yang dipimpinnya





Daftar Pustaka:
Menggapai Ridha Illahi
Dr Sayyid Muhammad Nuh

Wednesday, September 25, 2013

Bukan Sekedar Khayalan

Sewaktu kecil aku cukup dekat dengan Om yang profesinya seorang guru, Aku biasa memanggilnya Om Adjie, kami cukup akrab bahkan tidak jarang Om Adjie mengajakku ketempat beliau mengajar. Om Adjie dimataku adalah sosok pengajar yang cerdas, sabar, humoris tapi sewaktu-waktu bisa berubah keras dan tegas manakala menghadapi ketidak disiplinan anak didiknya. Karena seringnya kami bersama ternyata ada lintasan dalam dada untuk bisa menjadi pendidik seperti Om Adjie. Dalam bayanganku waktu kecil seorang pendidik adalah profesi yang mulia yang tidak semua orang bisa melakukannya.
  

Ketika remaja aku aktif di Remaja masjid di dekat rumah, di komunitas itu selain membantu adik-adik untuk belajar mengaji juga membantu mengajari ilmu pengetahuan umum. Waktu jedah antara maghrib dan Isya' kami pakai untuk mengajari adik-adik tingkat SD dan SMP untuk belajar dan mengerjakan Pe-Er. Mereka terlihat sangat antusias dengan program yang diadakan Remaja Masjid tersebut, itu bisa dilihat dari semangat mereka dalam belajar. Masya Allah, sebuah kebahagiaan yang menyusup di hati manakala menghadapi kelucuan, keluguan serta kebandelan adik-adik. Walaupun bukan menjadi pengajar secara formal tapi bagiku cukup mengobati keinginan masa kecilku.  

Pena IRMA atau Pendidikan Anak Ikatan Remaja Masjid. Dari situ muncul bibit-bibit unggul yang selama ini tidak terlihat. Dari Pena Irma muncul generasi baru yang menghadirkan semangat baru serta gairah belajar baru yang belum terkoordinasi dengan baik. Kami memang lebih memprioritaskan kepada adik-adik dari keluarga yang kurang mampu memberikan les privat secara gratis sebagai bentuk amal jariyah serta shadaqah. Karena kami waktu itu rata-rata masih kuliah yang belum mendapat penghasilan sendiri maka kami berkomitment untuk bershadaqah dengan sedikit ilmu yang dipunya.

Satu hal yang membanggakan yaitu dari semangat dan antusiasnya mereka terbayar dengan berhasil meraih prestasi juara II di lomba cerdas-cermat, juara I lomba Adzan, juara III Qira'ah dan juara I dibidang seni lukis antar TPA se-Jawa dan Bali yang diadakan oleh TPA Masjid Al-Falah. Alhamdulillah sedikit ilmu yang kami punya mampu memberi kebanggaan dan kebahagiaan bagi adik-adik termasuk para orang tua mereka. Mereka juga manusia yang butuh dibimbing dan diapresiasi. 

Berawal dari itu selalu muncul dalam benakku sebuah keinginan untuk ikut berperan aktif membangun dan memajukan pondasi pendidikan anak-anak negeri yang dibalut dengan akhlak yang baik khususnya bagi keluarga yang kurang mampu. Berkaca dari Pena IRMA sesungguhnya banyak anak-anak yang mempunyai kemampuan intelektual yang bagus, hanya kurang ditunjang sarana dan prasarana yang tepat sehingga mereka tidak tahu harus bagaimana dan dampak terburuk akibat tidak mendapatkan pendidikan yang tepat akhirnya muncul anak jalanan yang mengais rezeki diantara keramaian lalu lintas perempatan jalan.

Jangan menyalahkan mereka bila belum bisa berbuat apa-apa. Mereka bukan sampah, mereka hanya membutuhkan uluran tangan kita untuk membentuk karakter dan menunjukan arah yang baik dan benar dengan ilmu dan agama dalam bentuk sentuhan kasih sayang. Mereka juga bisa berkilau bak mutiara jika kita mau mengasahnya. Mereka juga punya hak yang sama untuk bermimpi dan memperjuangkan masa depannya dengan gilang-gemilang. Mereka juga butuh sarana dan prasarana yang sama dengan kita. Hanya kesempatanlah yang membedakannya, lantas kenapa kita tidak berbagi dalam kebaikan, bukankah sesungguhnya harta atau ilmu yang kita miliki adalah yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

Pernah terlintas dalam benakku untuk mendirikan sebuah sekolah yang bisa meringankan beban bagi anak-anak yang kurang mampu. Mungkin terlalu berlebihan dan tidak realistis bila berharap untuk membuat suatu wadah berupa sekolah murah bahkan gratis yang bisa mengakomodasi anak-anak yang kurang beruntung hal finansial, karena nyatanya diriku sendiri bukanlah orang yang punya finansial lebih apalagi sebagai konglomerat. Tapi tidak ada salahnya bila aku memiliki dream atau impian untuk menuju kesana. Bukankah sebuah niat yang baik sudah dicatat sebagai satu amal kebaikan dan akan bernilai sempurna bila mampu mewujudkannya.


Tentunya bukan hanya sekedar dream yang berupa khayalan belaka tapi harus tetap dibarengi dengan usaha dan doa, untuk selanjutnya biarlah Allah Ta'alla memberikan jawaban dan keputusan yang terbaik bagi kita. Aku yakin sebuah kemauan yang baik insya Allah akan berakhir baik. Kalaupun tidak sekarang insya Allah akan diwujudkan generasi anak cucuku berikutnya. Yang penting jangan pernah menyerah untuk mewujudkan impian. Terkadang apa yang kita anggap kecil justru akan bermanfaat yang berdampak positif bagi orang lain. Untuk itu jangan bosan untuk berbagi kebaikan.





      

Wednesday, September 4, 2013

Filosofi Pohon Kelapa

Kita semua tentunya sudah tidak asing dengan pohon kelapa, tapi pernahkah kita belajar dari filosofi pohon kelapa? Kelapa (Cocos nucifera) adalah anggota tunggal dalam marga Cocos dari suku aren-arenan atau Arecaceae. Tumbuhan ini dimanfaatkan hampir semua bagiannya oleh manusia sehingga dianggap sebagai tumbuhan serbaguna, terutama bagi masyarakat pesisir. Kelapa juga adalah sebutan untuk buah yang dihasilkan tumbuhan ini. Tumbuhan ini diperkirakan berasal dari pesisir Samudera Hindia di sisi Asia, namun kini telah menyebar luas di seluruh pantai tropika dunia.

pohon kelapa l sumber gambar
Pada artikel kali ini saya tidak akan membahas tentang sejarah asal-usul dari pohon kelapa tapi akan membahas tentang filosofi dari pohon kelapa yang sangat menginpirasi sesuai tema giveaway. Seperti yang sudah disebut diatas bahwa pohon kelapa adalah tumbuhan serbaguna dan yang menjadi bagian dari tumbuhan itu semuanya berguna dan memberi manfaat hingga tidak menyisakan sedikitpun mulai dari akar yang paling bawah hingga daun yang paling tinggi.

Mari kita perhatikan satu persatu mulai dari akar tumbuhan tersebut. 

  • Akar kelapa selain bisa berfungsi sebagai penahan terjadinya erosi juga bisa dimanfaatkan sebagai kayu bakar juga untuk hiasan kerajinan tangan dan hebatnya akar kelapa ini menginspirasi penemuan teknologi penyangga bangunan Cakar Ayam dan terbukti banyak bangunan yang menggunakan tehnik seperti akar kelapa.
     
  • Kayu dari batangnya, yang disebut kayu glugu, dapat dipakai sebagai papan untuk rumah atau bisa juga untuk penyangga bangunan atau yang disebut dengan soko guru.
  • Daunnya dipakai sebagai atap rumah setelah dikeringkan. Daun muda kelapa disebut janur, dipakai sebagai bahan anyaman dalam pembuatan ketupat atau berbagai bentuk hiasan yang sangat menarik, terutama oleh masyarakat Jawa dan Bali dalam berbagai upacara, dan menjadi bentuk kerajinan tangan yang berdiri sendiri (seni merangkai janur).
  • Tangkai anak daun yang sudah dikeringkan disebut lidi, jika dihimpun menjadi satu bisa dijadikan sapu untuk membersihkan sampah dan kotoran.
  • Tandan bunga yang masih muda, yang disebut mayang atau manggar dalam bahasa Jawa, dipakai orang untuk hiasan dalam upacara perkawinan dengan simbol tertentu. Mayang oleh orang Jawa-Mataraman dipakai sebagai bahan pengganti gori dalam pembuatan gudeg dan disebut gudeg manggar.
     
  • Bunga betina atau buah mudanya, disebut bluluk dalam bahasa Jawa, dapat dimakan. Cairan manis yang keluar dari tangkai bunga, disebut (air) nira atau legèn (bahasa. Jawa), dapat diminum sebagai penyegar atau difermentasi menjadi tuak. Gula kelapa juga dibuat dari nira ini.
  • Buah kelapa adalah bagian paling bernilai ekonomi. Sabut yang berupa serat-serat kasar, bisa digunakan sebagai bahan bakar, pengisi jok kursi, anyaman tali, keset, serta media tanam bagi anggrek. Tempurung atau batok, bisa digunakan sebagai bahan bakar, pengganti gayung, wadah minuman, dan bahan baku berbagai kerajinan tangan.
  • Endosperma buah kelapa yang berupa cairan serta endapannya yang melekat di dinding dalam batok (daging buah kelapa) adalah sumber penyegar populer. Daging buah muda berwarna putih dan lunak serta biasa disajikan sebagai es kelapa muda atau es degan. Cairan ini mengandung beraneka enzim dan memilki khasiat penetral racun dan efek penyegar/penenang. Beberapa kelapa bermutasi sehingga endapannya tidak melekat pada dinding batok melainkan tercampur dengan cairan endosperma. Mutasi ini disebut (kelapa) kopyor. Daging buah tua kelapa berwarna putih dan mengeras. Sarinya diperas dan cairannya dinamakan santan.
  • Daging buah tua ini juga dapat diambil dan dikeringkan serta menjadi komoditi perdagangan bernilai ekonomis, yang disebut kopra. Kopra adalah bahan baku pembuatan minyak kelapa dan turunannya. Cairan buah tua biasanya tidak menjadi bahan minuman penyegar dan merupakan limbah industri kopra. Namun demikian, cairan ini dapat dimanfaatkan lagi untuk dibuat menjadi bahan semacam jelly yang disebut nata de coco dan merupakan bahan campuran minuman penyegar. Daging buah kelapa juga dapat dimanfaatkan sebagai penambah aroma pada masakan daging serta dapat dimanfaatkan sebagai obat rambut yang rontok dan mudah patah.

Sungguh luar biasa yang dihasilkan dari pohon kelapa, mulai dari akar sampai pucuk daun yang paling tinggi memberikan manfaat bagi manusia. Melihat dari filosofi dan azas manfaat yang diberikan pohon kelapa ini merupakan ayat kauniyah yang diberikan oleh Allah Ta'ala agar manusia bisa belajar dan memaknai hidup ini seperti pohon kelapa. Tidak menimbulkan kerusakan bahkan menjaga lingkungan dari kerusakan.

Pohon kelapa adalah symbol dari jiwa yang kokoh, kuat dan kaya akan manfaat. Tidak merasa takut bercita-cita tinggi walau angin menghembus kencang. Kuat bukan untuk menindas sesama tetapi mengayomi pohon-kecil yang ada disekitarnya. Kaya tapi tidak kikir karena apa yang dia miliki semua bisa memberi manfaat positif.

Apakah kita sudah bisa memberi manfaat bagi sesama? Kita sendiri yang mampu menjawabnya.





Sumber : wikipedia kelapa 

   

Sunday, July 28, 2013

Sebuah Asa Di Lampu Merah

Setiap pagi saat berangkat kekantor aku melintasi beberapa lampu merah diperempatan jalan, entah mengapa pagi ini mataku seperti digerakkan kearah bocah kecil yang sedang menjajakan setupuk koran ditangannya. Dihampiri satu persatu kendaraan yang berhenti dilampu merah. Berkali-kali kulihat pengemudi mobil maupun motor hanya geleng kepala sebagai isyarat tidak membeli korannya. Kulirik jam tangan masih pukul delapan pagi, masih ada waktu setengah jam lagi. Terdorong rasa penasaran aku berhenti dan menepi sambil terus memperhatikan reaksi si bocah menghadapi penolakan demi penolakan. 


Lampu hijau menyala kendaraanpun mulai melaju satu persatu, kesempatan untuk mengais pembeli harus ditunda. Si bocah kembali menepi duduk di trotoar persis bawah traffic light. Wajahnya menengadah menatap langit biru. Bibir mungilnya komat-kamit, mungkin seuntai doa yang ditujukan pada Robbnya, dilihatnya burung-burung terbang lincah kesana-kemari untuk mencari makanan seraya memberi isyarat agar dia tidak boleh lelah menjemput rizkinya. 

Lampu merahpun kembali menyala setengah meloncat dia kembali beranjak dari trotoar menghampiri mobil yang berjajar. Lagi-lagi gelengan kepala yang diterimanya, entah ini penolakan yang keberapa kalinya dia tidak sempat menghitungnya, dengan sabar dihampirinya satu-persatu pengemudi tersebut. Hanya sebuah harapan yang tersisa semoga masih ada yang akan membelinya.


Kaca mobil inova hitam dibuka, seorang lelaki paruh baya melambaikan tangan sembari memanggilnya. Entah karena memang perlu berita dikoran atau hanya rasa iba semata. Dari jarak kira-kira limapuluh meter aku masih mengamati bocah tadi. Tampak senyumnya mulai mengembang alhamdulillah dua orang sudah yang membelinya. Wajah si bocah makin berbinar ketika ada tiga, empat, lima dan seterusnya yang membeli korannya, hanya tersisa dua lagi yang ada ditangannya…, Subhanallah dari kesabaran dan sikap pantang menyerah telah dibalas tuntas oleh Allah Ta’alla. Kuhampiri si bocah tadi, karena tinggal dua Koran ditangannya maka aku beli dua-duanya walau sebenarnya dirumah sudah berlangganan koran.

YESS..!! si bocah itu mengepalkan kedua tangannya, sebuah ekspresi kegirangan karena korannya habis terjual. Sebelum dia pergi sempat kubertanya padanya, 
      
“adik umur berapa, apa tidak sekolah? tanyaku dengan rasa penasaran

“sembilan tahun, masuk siang” Bocah itu menjawab singkat.

“ayah dan ibunya kemana..??” aku bertanya lagi.

“ayah penarik becak" kembali dengan singkat dia menjawab sambil menunjuk                           ayahnya yang ada diseberang jalan.

"ibu tukang cuci pakaian”

"lantas uang dari jualan Koran untuk apa..?"
 
"untuk sekolah, sehari saya harus menjualkan sepuluh koran, dikumpulin untuk bayar sekolah" kata bocah itu dengan tegas.

Subhanallah bocah sekecil ini sudah mentarget dirinya dengan nominal angka-angka, hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, dia tidak mampu berpikir besok bagaimana, masa depannya jadi apa, yang dia sanggup pikirkan adalah bagaimana dia menghabiskan korannya hari ini, bagaimana dia menjalani hidup yang baik untuk hari ini. Ya Allah hari ini Engkau beri pelajaran dalam hidupku dengan ayat-ayat kauniyah-Mu, hari ini telah Engkau beri pelajaran padaku tentang kesabaran, istiqomah, rasa syukur dan sikap pantang menyerah serta harus punya goal setting dan tujuan hidup, tak terasa mataku berkaca, ketika menyadari atas berbagai kenikmatan dari-Nya yang jarang aku syukuri, hingga tak terasa mulutku berucap:

"Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan"

Ya Allah berilah pemahaman kepadaku akan makna dari tujuan ibadah dan target dalam ibadah, tiap hari sholat dan bersujud kepadamu, tapi sholatku masih belum bisa mencegah dari kemungkaran, sholatku hanya sebatas melaksanakan ketentuan dan kewajiban agama tapi belum menyentuh pada fungsi dan peran yang sesungguhnya dalam kehidupan.

Puasa Ramadhan selalu kujalani tapi hanya sebatas menahan diri dari makan dan minum mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, belum menyentuh esensi dan tujuan puasa yang sebenarnya yaitu menjaga hati dari sikap hasud serta mengendalikan perilaku dan ucapan dari kerusakan dan menjaga harmonisasi hubungan vertical dengan-Mu serta hubungan horizontal dengan sesama.

Masih banyak tujuan yang belum terealisasikan, banyak hikmah besar yang belum terwujud melalui ibadah-ibadah ritual. hanya melakukan ibadah tanpa berusaha menghidupkan ruh dari ibadah tersebut. Jiwa masih kering kerontang masih jauh dari sifat tawadhu' apalagi zuhud. ibadah kepada-Mu masih menjadi kewajiban bukan kebutuhan. 

Ya Allah ya Robb ampunilah aku atas kebodohanku ini.
  


Notice: "Jika kita yang telah diberi kenikmatan melebihi bocah penjual koran, tapi masih sering mengeluh, mari kita belajar kepada kegigihan bocah penjual koran"


Repost dari
Media Robbani


Tuesday, July 23, 2013

Berkawan Mentari

Teriknya matahari Surabaya terasa menusuk-nusuk kulit, Deru suara mesin kendaraan meraung memekakkan telinga, belum lagi asap dan debu yang berterbangan memenuhi jalanan yang kian macet sehingga makin membuat sesak didada. Sebenarnya siang ini enggan untuk keluar kantor kalau bukan ada pekerjaan penting yang membutuhkan keluar. Apalagi lagi sedang berpuasa harus sedikit berhemat tenaga.

Panas matahari kurasakan kian menyengat panasnya seperti tepat diubun-ubun, aku menepi dan berteduh dibawah pohon akasia yang besar nan rindang. Dipinggir jalan nampak seorang lelaki tua masih sibuk menyapu menyingkirkan sampah, kotoran dan daun-daun jatuh bertebaran di jalanan. Sesekali dia menyeka peluh yang membasahi sekujur mukanya dengan handuk putih yang tidak putih lagi. Bibirnya mengering mengisyaratkan sedang menahan rasa dahaga ditengah teriknya siang hari.

berkawan mentari l sumber gambar

Hanya karena jalanan macet dan padat membuat bapak tua harus minggir dan berdiri tepat disebelahku. Dengan seksama kuamati bapak tua ini ada rasa kagum dan rasa iba kepada lelaki renta ini. Dilihat dari fisiknya bapak ini mungkin usianya sudah kepala enam. tapi dedikasinya pada pekerjaannya patut diacungi jempol. Rasanya tidak salah jika disebut sebagai pahlawan kebersihan tanpa tanda jasa. Bapak tua itu tersenyum kepadaku saat beradu pandang denganku. sembari berucap kepadaku.

"Berteduh ya nak?, hari ini memang sangat panas"

"Iya Pak" jawabku sembari memberikan senyum balasan.

"Bapak puasa ? ucapku menyelidik

"Alhamdulillah bapak masih bisa puasa nak, karena puasa sudah menjadi keseharian bapak" Jawabnya mantab.

"Maksudnya gimana pak?" tanyaku agak penasaran.

"Meskipun bukan bulan Ramadhan bapak terbiasa makan seadanya, kalaupun tidak ada yang dimakan bapak harus puasa".

Jleebb..!!  kalimatnya membuatku tertohok.

"Oh iya, maaf ya pak bekerja di jalanan berdebu dan berpolusi serta udara yang panas begini apa tidak kehausan" rasa isengku muncul.

Pak tua itu tersenyum sambil menghela nafas dalam-dalam, tak lama kemudian dia berkata.

"Bapak sudah berteman matahari sejak duapuluh tahun lalu, matahari siang hari memang panas nak, tapi neraka jauh lebih panas lagi".

Astaghfirullah jawaban bapak itu sukses membuatku terjerembab KO. Aku hanya bisa diam terpaku melihat ketabahan dan keyakinan bapak tua itu.

Sementara diriku yang belum serapuh dia masih suka mengeluh dan tidak ikhlas menghadapi kondisi dan cuaca. Harusnya aku malu berteduh seperti ini hanya untuk menghindari udara panas yang sebenarnya suatu rahmat dari-Nya. Karena keadaan apapun adalah ada hikmah jika mau mengkajinya dan Allah tidak akan memberikan ujian tanpa memberi balasan yang sebanding. Baru merasakan udara panas sudah mengeluh apalagi merasakan panasnya api neraka.

Aku masih berdiri mematung disebelah motor yang kuparkir, sampai akhirnya dikejutkan oleh suara pak tua.

"Maaf ya nak, bapak tinggal dulu, bapak harus membersihkan sampah-sampah dijalanan".

"Eh.. oh.. iya pak silakan, saya juga mau melanjutkan perjalanan" jawabku terbata sembari menstarter motor dan melaju dengan membawa rasa malu pada diri sendiri.

Jika masih ada diantara kalian yang masih suka mengeluh dan cengeng seperti aku, mari kita buang jauh-jauh rasa itu, di luar sana masih banyak yang menjalankan ibadah puasa dengan perjuangan yang lebih berat. Bahkan konon dulu Rasulullah dan para sahabat dengan gagah berani berperang melawan musuh Islam di bulan Ramadhan yang terkenal dengan Perang Badar. Maka tidak ada alasan untuk menyurutkan semangat di bulan Ramadhan.

ALLAHU AKBAR..!!



Friday, July 19, 2013

Menjadi Manusia Baru

Tidak selamanya hidup selalu sesuai rencana, yang kita rencanakan kadang berbalik seratus delapan puluh derajad dengan kenyataan yang diharapkan. Itu sebuah bukti sahih bahwa manusia hanya bisa merencanakan sedangkan pemberi keputusan tetaplah Allah sang penguasa semesta raya. Itu pula yang setidak-tidaknya yang pernah terjadi atas diriku beberapa tahun silam.

Langkah Pertama adalah langkah yang paling sulit dilakukan seseorang, padahal sesungguhnya langkah pertama itulah kunci sukses untuk menapaki langkah berikutnya. Kalaupun kita mulai melangkahkan kakinya tanpa disertai konsistensi berkesinambungan maka yakinlah perjalanannya akan putus ditengah jalan. Sama halnya dengan orang berhijrah dari satu keadaan pada keadaan yang lain tentu bukan hal yang mudah dibutuhkan sikap istiqomah.

 menyibak awan, menyongsong matahari l sumber gambar

Berawal dari pesan Ayah yang ditulis pada selembar kertas yang diberikan disaat-saat terakhir hidupnya. 

"Anakku, engkau telah memilihkan Islam sebagai keyakinan kita bersama, sampaikan apa yang harus disampaikan kepada orang lain, agar makin banyak yang bisa mengambil manfaatnya"

Sebaris kalimat itu yang tetap terngiang di telingaku selalu menjadikan motivasi untuk menyampaikan syiar agama. Bukan perkara mudah harus membalikkan arah hidup dari manusia yang hidup di dunia bebas berubah menjadi manusia yang disekat dengan kaidah-kaidah agama tentu butuh perjuangan dan kesabaran. Bukan itu saja disaat tengah berada di masa-masa puncak menjalankan bisnis multilevel, aku harus dihadapkan dua pilihan sulit antara  konsentrasi di dunia bisnis atau di dunia dakwah.

Memang benar kata orang, hidup adalah sebuah pilihan dan manusia agar bisa eksis harus mempunyai pilihan sebagai skala prioritas dalam hidupnya. Maka karena wasiat dari ayah aku ikhlas meninggalkan dunia bisnis yang telah memberiku banyak rupiah agar bisa lebih konsentrasi pada dunia dakwah. Ternyata memulai berdakwah tidak semudah membalikkan tangan banyak sindiran dan cibiran diarahkan padaku, terutama dari lingkungan teman-teman yang selama ini menjadi bagian dari kebebasanku.  

Aku teringat dengan kata salah satu ustadz yang menjadi pembimbingku, jangan dikira engkau bisa berhijrah tanpa diuji terlebih dahulu, ada sebuah ujian yang bisa merontokkan keimanan jika tidak tahan uji. Dan benar adanya Allah menguji keimananku melalui sindiran-sindiran teman yang cukup memerahkan telinga. Aku hanya tersenyum, mungkin senyuman yang kutebarkan bisa menjadi air untuk memadamkan api yang mengeliat diwajah teman masa laluku. Biarlah aku menjadi manusia baru yang bisa memberi manfaat bagi orang-orang disekitarku.

Dari buku sirah Nabawiyah aku mengambil pelajaran untuk merenung. Masih beruntung aku hanya menghadapi sindiran dan cibiran, sangat tidak sebanding dengan ujian para Nabi dan Rasul yang harus menghadapi serangan senjata dan pedang bahkan nyawa menjadi taruhan demi menegakkan kebenaran hakiki. Maka tidak ada alasan bagiku untuk mundur sejengkalpun dari langkah-langkah kecil yang sudah kutapakkan.

Aku sangat terkesan dengan sebaris kalimat yang disampaikan seorang ulama besar Ibnu Taymiyah dengan kalimatnya yang indah memotivasi "bagi mukmin sejati dibunuh adalah syahidah diusir adalah tamasya dipenjara adalah khalwat" Subhanallah.

Aku ingin berubah, aku ingin mencari hakikat hidupku yang telah hilang. Dengan tekad yang kusematkan didada aku mencari guru-guru pembimbing agama, mencari referensi-referensi buku yang bisa dijadikan pijakan dasar dalam mengarungi kehidupan baru. Tidak ada kata lelah, tidak ada kata menyerah karena keyakinan kuat bahwa Allah akan berada disisi orang-orang yang ingin berhijrah. Aku memang orang yang lemah dan bodoh tapi aku punya sandaran yang Maha Kuat dan Maha Pandai yang sangat pantas untuk diandalkan.

Jangan kita merasa takut menyampaikan kebenaran, selama kebenaran bersumber dari Allah dan Rasulnya, demikian nasehat dari guru pembimbing yang membuatku tidak ragu lagi menapaki dunia baru. Mari tanamkan kuat dalam diri kita bahwa sesungguhnya kita diciptakan untuk menjadi seorang pemenang bukan pecundang, kita dilahirkan menjadi khalifah untuk mengisi kehidupan di bumi dengan kemaslahatan bukan kemudharatan

Bersyukur Allah telah memberi kemudahan dengan mempertemukanku dengan orang-orang yang ahli dalam bidang agama, berawal dari mengikuti remaja masjid aku banyak belajar tentang dasar-dasar akidah Islam dan bagaimana seharusnya sikap seorang muslim dalam habluminallah dan habluminannas.  Sungguh suatu keajaiban terjadi, semua berjalan diluar nalarku. Maka benar jika Allah sudah berkehendak tidak ada yang sulit bagi-Nya.

Banyak pemahaman baru yang kudapat dari majelis satu ke majelis yang lain dan semakin banyak yang kudapat maka semakin merasa diri ini semakin bodoh dan faqir dihadapan-Nya. Apa-apa yang kubanggakan selama ini tidak ada artinya bagi-Nya, ilmu manusia hanya ibarat setetes air dilautan luas. Masih pantaskah kita membusungkan dada dengan setetes ilmu yang dimiliki?  

Terima kasih ya Robb, melalui perantara wasiat ayah telah Engkau ingatkan diriku untuk berubah menjadi manusia baru dengan langkah baru menuju dunia baru. Dunia yang disinari cahaya-Mu nan terang benderang, dunia yang memberi harapan baru. Jika Engkau izinkan berilah kekuatan pada tangan lemah ini untuk menyibak pekatnya awan dan menyongsong terangnya matahari dihati serta membiaskan cahaya-Mu ke seluruh alam dan ke relung hati. Aamiin.

Allah pembuat skenario yang maha indah selalu memberi peran yang terbaik bagi hambanya. Jangan pernah ragu akan segala qudrat dan iradat-Nya, karena Allah maha tahu akan kemampuan hambanya, yang baik bagi Allah pasti baik bagi hamba.










Saturday, December 29, 2012

Filosofi Hidup Bu Manggi


Suatu pelajaran berharga yang kudapatkan dari seorang wanita tua. Guratan wajahnya tampak sangat letih. Kulitnya makin berkerut coklat kehitaman terbakar matahari disiang hari. Langkahnya sudah tidak setegar beberapa tahun lalu. Tapi tidak ada keluh-kesah yang tersirat dari hatinya itu bisa terlihat dari tatapan matanya walau tampak sayu tapi optimisme terpancar kuat. Air matanyapun sudah mengering yang tersisa hanya semangat bercampur kenyakinan bahwa Allah tidak akan salah alamat dalam membagikan rejeki. Alasan itulah membuatnya tetap tegar dan bertahan mengarungi derasnya ombak kehidupan. 

Wanita itu bernama Bu Manggi. Entahlah siapa nama sebenarnya tapi teman-teman dikantor biasa memanggilnya Bu Manggi, dia tidak merasa keberatan dengan panggilan itu. Nama Manggi diambil dari kata Semanggi. Sesuai dengan dagangan yang dijualnya yaitu semanggi. Sebagai penjual sayur semanggi dia cukup sabar dan telaten dalam menghadapi beragam karakter pembeli. Maka tidak heran jika banyak pelanggannya termasuk teman-teman dikantor dan orang-orang dikomplek perkantoranku.


Orang mengenal Bu Manggi sebagai sosok yang jujur dan tidak neko-neko. Semangat juangnya tinggi karena dia sadar jika tidak mendapatkan hasil hari ini tentu dia akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya esok hari. Apalagi sudah beberapa tahun suaminya kena stroke hanya bisa berbaring diranjang. Praktis Bu Manggi menjadi tulang punggung keluarga. Beruntung masih ada satu cucunya yang tinggal serumah bisa menjaga dan merawat kakeknya bila ditinggal berjualan

Bu Manggi orang yang tetap memegang teguh filosofi Jawa. Banyak mengajariku filosofi kehidupan dalam bahasa Jawa kental yang kadang sulit aku mengerti. Pernah suatu ketika menasehatiku dengan caranya sendiri. Walau terkesan sederhana ternyata mengandung makna yang dalam. Ada beberapa nasehatnya yang sempat terekam dalam memoriku.

Tiyang gesang niku Ojo Mung Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman (Orang hidup itu jangan hanya terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi).

Tiyang gesang Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman (Orang Hidup itu jangan mudah terheran-heran. Jangan mudah menyesal. Jangan mudah terkejut. Jangan cengeng atau manja) 

Pernah juga mengatakan kepadaku Ojo Milik Barang Kang Melok, Ojo Mangro Mundak Kendo (Jangan silau dan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik dan indah, jangan berfikir untuk mendua agar tidak mengendurkan niat dan semangatnya).

Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan (Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri. Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).

Bagiku sebuah nasehat itu menjadi baik jika mengandung kebaikan dan tepat sasaran tanpa memandang dari siapa dan dari mana nasehat itu. Seperti yang dikatakan Ali Bin Abi Thalib "Jangan melihat siapa yang menyampaikan, tapi lihat apa yang disampaikannya"

Bu Manggi memang hanya seorang penjaja sayur semanggi. Tetapi sebagai seorang muslimah yang taat dia tetap mempunyai impian yang disematkan tinggi dilangit. Impiannya hanyalah ingin menunaikan rukun Islam ke lima yaitu menunaikan ibadah haji. Dia sendiri sejujurnya tidak tahu dengan cara apa dan bagaimana bisa berhaji. Dia sangat menyadari penghasilannya sebagai penjual semanggi tidak terlalu banyak hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tetapi dia tetap punya keyakinan bila ada kemauan insya Allah akan ada jalan. Kalaupun memang pada kenyataannya belum diberi kesempatan untuk ke tanah suci minimal sudah ada niatan untuk kesana.

Satu hal yang membuatku berdecak kagum yaitu ketika Bu Manggi menemukan dompet berisikan beberapa lembar uang ratusan ribu serta surat-surat penting. Dengan tergopoh-gopoh dan wajah pucat pasi dia meminta tolong padaku untuk mencarikan pemilik dompet. Beruntung ada KTP didompet sehingga bisa dilacak alamat dan no telponnya melalui 108. Bu Manggi tidak mau diberi hadiah kecuali jika dibeli semanggi dagangannya.

Subhanallah. Padahal dia sendiri kehidupannya pas-pasan juga membutuhkan uang untuk berobat suaminya dan jika dia tidak mengembalikan tidak ada satupun orang yang tahu. Tapi dalam hatinya tertanamkan bahwa Allah Maha Mengetahui keyakinan itu bukan hanya di bibir tapi benar-benar diaplikasikan dalam kehidupannya.

Ketika ditanyakan alasan mengembalikan dompet tersebut, dengan polos Bu Manggi menjawab "Kulo niki tiyang mlarat mboten gadah bondho nopo-nopo teng donyo, wong sampun mboten gadah bondo tambah mboten jujur, lajeng nopo sing damel piandhel dumateng ngarsani Gusti Allah" (Saya ini sudah miskin tidak punya harta apa-apa di dunia ini, sudah tidak punya harta tidak jujur lagi lantas apa yang diandalkan dihadapan Allah).

Aku bagai tertampar dengan sebaris kepolosan dari Bu Manggi. Apakah aku bisa istiqomah jika mendapat realita hidup seperti Bu Manggi ? Entahlah, aku hanya bisa memohon perlindungan kepada Allah pemilik jiwa-ragakuku. Hanya Dia yang bisa membolak-balikkan hati manusia.

"Ya Allah, wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu"

"Ya Tuhan Kami Janganlah Engkau Condongkan Hati Kami Kepada Kesesatan Setelah Engkau Berikan Petunjuk Kepada Kami, Dan Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi" 

Aamiin...

 

Saturday, June 16, 2012

Jangan Batasi Potensi Diri

Bismillahirahmanirrahiim
Sangat Pantas jika Islam mengabadikan seorang Ibu sebagai sosok yang harus dihormati, dan sangat pantas pula jika Islam mengibaratkan surga ada ditelapak kaki Ibu, dan yang luar biasa lagi, ridhanya Allah tergantung dari ridhanya Ibu, murkanya Allah juga tergantung dari murkanya Ibu.  Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menghargai eksistensi dari seorang ibu, jangan pernah mengeluarkan perkataan "ah" apalagi membentaknya, lebih-lebih sampai mendurhakainya. Seperti yang pernah saya tulis disini.

Dari membaca sebuah kisah disini, semakin memberi bukti nyata bahwa seorang Ibu selalu rela berjuang untuk kebahagiaan anak-anaknya, sejak dari kandungan, kemudian melahirkan sudah mempertaruhkan nyawanya. Merawat anak-anaknya tatkala masih bayi, sungguh bukan pekerjaan yang mudah. Sementara orang lain sudah terlelap dengan mimpi-mimpinya, sang Ibu rela merawat bayinya dengan senyum tulus, bukti keikhlasan hatinya. Bukan berhenti disitu saja, perjuangan terus berlanjut hingga anaknya dewasa, itulah sedikit gambaran tentang perjuangan seorang ibu. Seperti perjuangan seorang wanita yang luar biasa bernama Bunda Sumiyati. Seorang pekerja buruh pabrik dengan kemampuan finansial yang sangat terbatas beliau mampu membiayai kuliah putra-putrinya. Bunda Sumiyati telah membuktikan bahwa selalu ada jalan keluar jika mau berusaha dan mau membuat perubahan. Terbukti dari langkah kecilnya sebagai penjual pulsa seluler berdampak besar dan mampu membuat perubahan dalam hidupnya.

Aku teringat kata-kata orang bijak, sesuatu yang biasa jika ditangan orang yang luar biasa akan menghasilkan hal yang luar biasa pula. Itu terbukti dengan berbekal handphone yang biasa-biasa saja, ditangan Bunda Sumiyati yang luar biasa mampu menjadi sarana untuk mendapatkan hasil yang luar biasa pula.

Ternyata bukan itu saja, Bunda Sumiyati adalah sosok seorang wanita yang tidak mau berhenti untuk belajar dan berusaha mengeliminasi kata-kata TIDAK BISA sebelum mencobanya, karena sesungguhnya kata tidak bisa, tidak mampu dan sejenisnya pada hakekatnya hanya akan memamerkan kekurangan diri sendiri. Kenapa tidak mencoba untuk belajar menjadi bisa. Seperti yang dilakukan Bunda Sumiyati di salah satu tulisannya disini. Sikap positif ini seharusnya jadi inspirasi kita semua, khususnya para wanita dan ibu-ibu, jangan pernah menjadikan kesibukan sebagai alasan untuk tidak berbuat sesuatu, jangan menjadikan kesibukan sebagai faktor pembenaran atas kemalasan sendiri. Aku teringat nasehat ayah, sesungguhnya tidak ada orang yang sibuk, yang ada hanyalah orang yang tidak bisa membagi waktunya. 

Dengan kontribusinya Bunda Sumiyati di dunia perbloggeran disela-sela rutinitas sebagai seorang pekerja dan sebagai ibu rumah-tangga, sebagai bukti nyata memang benar sesibuk apapun bisa disiasati dengan kemauan, semangat, kerja smart dan pandai membagi waktu, agar bisa berbuat sesuatu. Berhentilah mengkambing hitamkan kesibukan, dan yang lebih parah lagi adalah jangan hanya disibukkan mengeluh atas ketidak mampuan dan keterbatasan diri dalam menjalani prosesnya, tapi fokuslah pada solusi atas hasil akhir.

Sebagai penutup aku mengajak semuanya khususnya diriku sendiri, jangan pernah membatasi potensi diri, tapi bukan berarti mengabaikan sisi intelegensi dan akal sehat. yang penting salurkan energi kita pada sasaran yang tepat dan efektif, kembangkan potensi serta energi kita semaksimal mungkin untuk mencapai sasaran yang sudah kita targetkan, kemudian yakinkan alam bawah sadar kita untuk bisa menggapai target tersebut, tentunya hal yang paling penting adalah harus disertai do'a dan kepasrahan kepada yang Maha Pencipta, insya Allah kesuksesan akan menyertai kita semua. 


Review bulan Pebruari 2012 : Blogger mereview postingan bulan pebruari 2012

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Bolg Review

Friday, June 15, 2012

Ketenangan Hati dan Kejernihan Pikiran


Bismillahirahmanirahim
Membaca cerita Rejeki Rayloro Dalam ManMaks khususnya membaca tentang cerita antara Pak Rayloro dengan Pak Gondo Maruto, rasanya seperti melihat miniatur dari kehidupan dimasyarakat pada umumnya, kita sering kali menyalahkan obyeknya tapi lupa untuk mengoreksi dan mengevaluasi diri sendiri, berhentilah menyalahkan obyeknya, tapi lihatlah subyeknya juga, ada pepatah "rumput di halaman tetangga selalu tampak lebih hijau dari halaman sendiri",  itulah yang terjadi  atas diri manusia, tidak percaya diri dengan kemampuan sendiri, tapi  itulah yang terjadi atas diri Pak Rayloro, dia menganggap pancingnya penyebab gagalnya mendapatkan ikan, padahal kenyataannya ketika bertukar pancingpun tidak berpengaruh bagi dirinya. Barangkali Pak Rayloro lupa didalam hidup banyak hal yang harus dibenahi, sikap ramah, sabar, istiqomah, bersahabat, serta optimisme adalah hal yang penting dalam kehidupan ini, mungkin itulah yang membedakan antara Pak Gondo Maruto dengan Pak Rayloro maka berhentilah menyalahkan sesuatu, berhentilah mengeluh, karena rejeki tidak akan tertukar, rejeki juga tidak akan salah alamat, tugas manusia hanya berusaha semaksimal mungkin, selebihnya hanya bisa bertawakal. 

Membaca cerita di Blogcamp mengingatkan akan kejadian yang terjadi pada diriku beberapa tahun yang lalu, suatu ketika aku diajak memancing seorang teman, sebut aja namanya Denny, alias Denny si Manusia Ikan, dikalangan kami Denny terkenal ahli dalam hal memancing, sepertinya Ikan-ikan itu sudah akrab dengannya, pancing di lempar tidak lama umpannya disahut dan dapatlah ikan, sedangkan aku yang sudah hampir satu jam, tidak dapat satupun ikan, boro-boro dapat ikan, yang menyentuhpun tidak ada, padahal tempatku tidak jauh dari Denny, apa yang salah dengan diriku? diam-diam saya perhatikan si Denny, oh ternyata ada yang berbeda caraku dengan cara dia, dia memancing dengan suasana hati yang riang, enjoy tanpa merasa terbebani, sedangkan aku terlalu ngongso ingin segera mendapatkan, sehingga aku merasa terbebani dengan target sendiri, semua jadi serba canggung dan nanggung. Setelah berhenti sejenak untuk menarik nafas dalam-dalam sambil me-refresh ulang beban di pikiran, maka tidak lama kemudian ada bunyi kecepek-kecepek Alhamdulillah akhirnya aku dapat ikannya juga.

Dari peristiwa sederhana ini aku bisa mengambil pelajaran bahwa untuk menjalani hidup itu dibutuhkan ketenangan hati dan kejernihan pikiran, apabila dua hal tersebut bisa diwujudkan, insya Allah semua akan terasa mudah, karena sikap sabar, syukur, istiqomah bisa terwujud karena adanya dua hal tersebut, hidup juga harus ada target, baik itu target jangka pendek, jangka menengah ataupun jangka panjang, tanpa target kita tidak akan kemana-mana, tapi yang harus diingat adalah janganlah target itu menjadi bumerang bagi diri sendiri, janganlah dengan target akan merasa terbebani, tapi berusahalah meraih target itu semaksimal mungkin, untuk hasilnya kita sandarkan pada Allah Ta'ala, kemampuan manusia hanya merencanakan, berusaha serta berdoa, tapi Allah yang menentukan segalanya. 

Jambore on the Blog 2012:Sehari Bersama BlogCamp


Artikel  ini untuk menanggapi artikel BlogCamp berjudul 
Rejeki Rayloro Dalam ManMaks Tanggal 15 Juni 2012


 

Thursday, May 24, 2012

Bangkit dan Berjuanglah


Bismillahirahmanirrahiim

Manusia bisa bertahan hidup tanpa makan dan minum dalam sehari tapi manusia tidak akan bisa bertahan hidup satu jam tanpa ada semangat dalam dirinyanya. Itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan betapa pentingnya makna semangat dalam diri manusia. Orang tanpa semangat diibaratkan seperti mayat yang berjalan, raganya hidup tapi hati dan pikirannya telah mati, jiwanya kering akan keimanan. Orang yang putus asa tidak percaya akan kuasa Allah Ta'ala. Padahal Allah telah menjadikan diri manusia lebih sempurna dibanding makhluk lainnya, maka bersyukurlah dengan berbagai nikmat yang telah diberikan-Nya.

Pasti diantara kita pernah melihat seorang balita sedang belajar berdiri ataupun belajar berjalan. Coba diperhatikan dengan seksama, kendatipun dia harus jatuh bangun bahkan harus berdarah-darah, menangis meraung-raung tetapi dia tidak pernah jera untuk mencoba lagi. Dengan langkah gontai setapak demi setapak dia tetap terus mencoba untuk berjalan, jatuh lagi, menangis lagi, berdiri lagi, mencoba lagi begitu seterusnya sampai dia tersenyum bangga bisa melewati masa-masa sulit tersebut.

Itulah kodrad manusia yang sesungguhnya, sebagai makhluk yang tidak kenal menyerah. Coba bayangkan jika saat kita balita sudah putus asa dan enggan belajar berjalan lagi. Maka dipastikan kita tidak akan kemana-mana alias hanya jadi penghangat kursi roda. Tapi ternyata kita bukan seperti itu, kita dilahirkan memang untuk menjadi seorang pejuang, menjadi seorang pemenang dan menjadi seorang pemimpin, terbukti dari beribu-ribu bahkan berjuta-juta sperma yang berjuang menembus indung telur, hanya satu yang berhasil yaitu kita.

Masih ingatkah ketika waktu kecil kita ditanya orang tua "besok kalau besar mau jadi apa nak?" dengan mantab dan tegas kita menjawab ingin jadi Dokter, ingin jadi Pilot, ingin jadi Tentara bahkan tidak ragu kita menjawab ingin jadi Presiden. Masih ingatkah? tetapi sayang di perjalanan waktu semangat masa kecil itu makin memudar terdegradasi dengan nalar yang sering mentolerir cita-cita masa kecil. Padahal cita-cita masa kecil adalah sebuah "dream" yang keluar dari alam bawah sadar, keinginan yang jujur tanpa rekayasa.

Mungkin kita berkilah dengan argumentasi "masa kanak-kanak kan masih polos belum terkontaminasi dengan pikiran-pikiran yang ribet dan berjibun". Yups betul..!! tapi untuk apa pentingnya jika menjadi sosok dewasa yang hanya pandai berdalih untuk pembenaran diri serta sebagai sosok yang hanya pandai merevisi cita-cita yang sudah di canangkan sejak kecil. Ternyata nyali kita tidak sehebat seorang balita. Maka jika hari ini kita masih sering mengeluh, sering putus asa dan gampang menyerah, mari kita belajar dengan seorang balita lagi.

Pict from google
Aku pernah membaca sebuah buku yang ditulis oleh Norman Vincent Peale. Seorang penulis yang juga ahli dibidang psykologi, dia mengatakan untuk bisa menjadi orang yang berhasil dan bisa memenangkan diri maka milikilah jiwa yang bersih, mata yang bisa melihat romantika di tempat umum, hati seperti anak-anak dan kesederhanaan spiritual. barangkali kalau aku tidak salah mengartikan seperti ini. 

Jiwa yang bersih akan selalu bersikap positif, dengan bersikap positif maka ion positif lebih mendominasi dalam diri kita, maka dampaknya sikap kita akan lebih tenang bisa mengendalikan diri dan lebih bijak, tidak gampang menyalahkan orang lain dan menyalahkan keadaan tetapi lebih memilih untuk instropeksi diri, maka dengan jiwa yang bersih akan lebih ringan dalam berbuat kebaikan, ringan dalam melakukan ibadah yang memungkinkan lebih diijabahi doa-doa kita. 

Kita juga dituntut untuk mengambil hikmah atas sikap dan perilaku dari masyarakat umum disekitar, ambil yang baik buang yang buruk, menjadikan perilaku masyarakat umum sebagai cermin hidup bagi diri sendiri, tidak perlu harus merasakan kegagalan sendiri jika bisa mengambil hikmah dari kegagalan orang lain.

Milikilah hati seperti seperti anak-anak, karena anak-anak selalu jujur dalam bersikap, tidak terlalu banyak pilihan dan alasan atau no excuse, hatinya tidak diselimuti rasa kekhawatiran berlebihan akan hasil yang akan dicapainya, so must go on, karena rasa kekhawatiran berlebihan itulah jadi penghambat langkah kita, hati selalu dipenuhi dengan tanda tanya, jangan-jangan nanti gagal, jangan-jangan nanti tidak mampu, jangan-jangan nanti....., dan seribu tanda tanya yang tidak terjawabkan, hanya membuat kita semakin bimbang tanpa melakukan action apapun. 

Jalani hidup dengan kesederhanaan spiritual lakukan hal-hal yang sederhana tidak berlebihan jangan juga menuntut berlebihan kepada Tuhan terlebih kepada sesama atas apa-apa yang bukan menjadi hak kita, tapi lakukan yang terbaik sebatas kemampuan maka insya Allah kebaikan akan menghampiri kita.

Untuk penutup posting aku akan sedikit bercerita tentang pentingnya tujuan hidup ataupun goal setting dalam kehidupan. Karena tanpa tujuan kita tidak akan kemana-mana. "Suatu hari disaat menjelang lebaran aku mengantar saudara yang hendak pulang kampung, kulihat di stasiun Gubeng ribuan manusia sudah tumpah-ruah menunggu datangnya kereta yang akan mengantar ke tujuan masing-masing, sambil menunggu aku ngobrol santai dengan seorang laki-laki yang sedang memangku anak kecilnya.

Aku bertanya "mau kemana mas?" dia menyebutkan salah satu kota tujuannya, iseng-iseng aku bertanya lagi, "apa tidak khawatir dengan keadaan seperti ini, pastinya untuk bisa masuk kedalam kereta harus berdesak-desakan dan berebut dulu dengan penumpang lainnya, apalagi bawa anak kecil apa tidak takut resikonya", diapun menjawab "Habis bagaimana lagi, ini kan lebaran kami harus bertemu dan sungkem dengan orang tua", "Apa penting pulang kampung mas?", aku coba memancing dia, "Ya penting sekali mas, belum tentu lebaran yang akan datang saya bisa bertemu dengan orang tua, beliau berdua sangat berharga bagi kami, jadi walaupun harus berdesakan dan apapun resikonya tetap dijalani", kata lelaki itu dengan mantab.

Dari jawaban itu aku bisa mengambil kesimpulan bahwa setiap sesuatu yang didasari dengan tujuan, goal setting serta sesuatu yang sangat berharga maka apapun resikonya akan dijalani, tidak pernah merasa takut untuk berjuang. Untuk itu saya mengajak kepada semuanya, jangan pernah terlena dengan zona kenyamanan, mari kita temukan goal setting serta impian dalam diri kita, mari bangkit dan berjuang seiring dengan doa yang kita panjatkan kepada-Nya, Insya Allah kita akan jadi seorang pejuang dalam kehidupan ini dan Insya Allah kita akan jadi pemenang.  

"Kebangkitan suatu bangsa berawal dari kebangkitan kita
kebangkitan suatu negara berawal dari kebangkitan rakyatnya.
mari bangkit dan berjuang dimulai dari diri sendiri. 




Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bangkit di BlogCamp