Bismillahirrahmanirrahim
Ibnu Taymiyah
Bagi saudaraku yang terjun dikancah politik, jadilah politikus amanah yang mentauladani Rasulullah, jauh dari khianat dan jauh dari kedzaliman, semoga Allah Ta'alla membimbing antum kejalan yang lurus yaitu shiratal mustaqim. Aamiin.
Akhir-akhir ini dimedia makin ramai pemberitaan tentang hingar-bingarnya dunia politik di negeri ini sehingga memunculkan berbagai persepsi dari masyarakat muslim. Bahkan banyak dikalangan ulama melarang umatnya agar tidak ikut terjun didunia politik praktis. Ada pendapat bahwa politik itu kotor, kejam, sadis dan penuh intrik sedangkan agama adalah suci dan sakral sehingga tidak usah dikotori hati ini dengan memikirkan politik. Dari pemahaman itu pada akhirnya memunculkan sikap sinis dan apatis terhadap dunia politik.
Sering kita mendengar kata-kata “jangan dicampur adukkan antara Islam dengan politik, karena Islam itu suci dan sakral sedang politik itu kotor dan menjijikkan” sekilas kata-kata itu benar tapi sebenarnya bathil hanya menunjukkan suatu kebodohan dari orang-orang yang tidak mengerti makna Islam yang sesungguhnya. Mereka memandang Islam dari sudut pandang yang sangat sempit.
Padahal sesungguhnya Islam adalah system integral yang tidak mengenal pemisahan antara aspek satu dengan aspek yang lain, Islam yang dibawa oleh Al Qur'an dan As-sunnah serta ulama-ulama salaf adalah Islam yang mencakup segala aspek kehidupan yaitu aspek spiritual, moral, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, hukum, politik, jihad dan lain-lain, karena disegala sektor Islam mempunyai target dan tujuan tertentu.
Islam juga system yang universal meliputi seluruh realitas hidup mencakup negara dan tanah air, pemerintahan dan rakyat, harta benda dan materi, kerja usaha dan kekayaan, militer dan pemikiran juga jihad dan seruan dakwah. Islam juga merupakan akidah dan ibadah yang benar dan lurus, jadi sangat ironis sekali justru dikalangan umat islam sendiri mencoba memisahkan antara agama dengan kehidupan duniawi seperti halnya agama nasrani memisahkan antara dewan gereja dengan pemerintahan ataupun kelompok sekuler yang memisahkan antara agama dengan kehidupan duniawi.
Menyikapi hal tersebut diatas timbul pertanyaan dalam diri. Benarkah Muslim tabu terjun di dunia politik? Jika benar berarti kita sebagai muslim harus rela diatur dan dikendalikan oleh umat non muslim?
Padahal sesungguhnya Islam adalah system integral yang tidak mengenal pemisahan antara aspek satu dengan aspek yang lain, Islam yang dibawa oleh Al Qur'an dan As-sunnah serta ulama-ulama salaf adalah Islam yang mencakup segala aspek kehidupan yaitu aspek spiritual, moral, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, hukum, politik, jihad dan lain-lain, karena disegala sektor Islam mempunyai target dan tujuan tertentu.
Islam juga system yang universal meliputi seluruh realitas hidup mencakup negara dan tanah air, pemerintahan dan rakyat, harta benda dan materi, kerja usaha dan kekayaan, militer dan pemikiran juga jihad dan seruan dakwah. Islam juga merupakan akidah dan ibadah yang benar dan lurus, jadi sangat ironis sekali justru dikalangan umat islam sendiri mencoba memisahkan antara agama dengan kehidupan duniawi seperti halnya agama nasrani memisahkan antara dewan gereja dengan pemerintahan ataupun kelompok sekuler yang memisahkan antara agama dengan kehidupan duniawi.
Menyikapi hal tersebut diatas timbul pertanyaan dalam diri. Benarkah Muslim tabu terjun di dunia politik? Jika benar berarti kita sebagai muslim harus rela diatur dan dikendalikan oleh umat non muslim?
Sebelum membahas terlalu jauh ada baiknya kita ketahui apa makna politik itu sendiri. Adapun definisi politik dari sudut pandang Islam adalah pengaturan urusan-urusan (kepentingan) umat baik dalam negeri maupun luar negeri berdasarkan hukum-hukum Islam. Pelakunya bisa negara (khalifah) maupun kelompok atau individu rakyat
Dari sedikit definisi diatas jelas bahwa politik bukanlah hal yang tabu, karena politik itu sendiri adalah salah satu cara yang dipakai untuk menciptakan kebaikan dalam lingkungan bermasyarakat. Memang banyak fenomena yang terjadi bahwa politik sebagai sarana mencari kekuasaan dan kemewahan, tetapi sebagai muslim yang baik tidak boleh berpikiran dangkal yang hanya berdasarkan fenomena dipermukaan saja melainkan harus berpikir secara mendalam sampai keakarnya dan selalu bersikap kritis.
Politik dibagi menjadi dua bagian:
- Politik Negatif : Menjalankan politik yang didasarkan untuk mencari kekuasaan untuk kepentingan pribadi atau golongan tertentu.
- Politik Positif : Menjalankan politik sebagai amanah untuk kemaslahatan umat bersama yang didasari semata karena Ridha Illahi.
Dari dua jenis politik tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwasanya bukan politiknya yang buruk melainkan jiwa pelaku politik itu sendiri yang perlu difitrahkan.
Rasulullah adalah seorang politikus ulung, sekaligus sebagai da’i, guru, hakim juga sebagai kepala negara yang mampu mengendalikan umat dengan baik dengan cara yang baik pula yang disertai dengan kebeningan hati. Begitu juga empat khalifah sesudahnya juga seorang politikus yang menjalankan system pemerintahan mewarisi kebaikan akhlak Rasulullah.
Akan tetapi di jaman sekarang akibat makin meningkatnya nilai-nilai keburukan seperti korupsi, kolusi dan nepotisme juga karena terjadinya degradasi moral para penguasa dan pelaku politik akhirnya banyak umat muslim yang membenci politik dan hal-hal yang berhubungan dengan politik akibat kesalahan persepsi yang harus diluruskan.
Justru situasi inilah yang dimanfaatkan oleh musuh islam untuk menjauhkan masyarakat muslim dari panggung politik dengan harapan dapat memangkas kekuatan Islam dari kekuasaan sebuah Negara, dengan demikian maka masyarakat muslim akan lebih mudah dikendalikan.
Kita tentu masih ingat dengan semboyan kelompok Islam Liberalisme dengan motto “ISLAM YES, POLITIK NO” secara sepintas terkesan baik dan mengajak umat muslim untuk lebih religius dan memfokuskan diri dalam ritual ibadah. Tetapi jika kita sadar bahwa sebenarnya umat islam secara tidak langsung telah digiring untuk semakin menjauh dari dunia politik pada akhirnya menjauh pula dari daulah Islamiyah yang kita dambakan dan yang lebih parah lagi umat muslim akan dikendalikan oleh non muslim.
Padahal sesungguhnya Islam tidak menyukai jika seorang muslim hanya tinggal didalam rumah sementara iblis berkeliaran bebas dimana-mana dan membuat kerusakan di muka bumi ini. Seorang muslim tidak boleh mencukupkan diri dengan hanya berdzikir, bertasbih dan bertahlil dimasjid-masjid saja tetapi Islam juga mewajibkan umat muslim berperan serta menghancurkan kejahatan dan kemungkaran dengan cara amar ma'ruf nahi munkar dan berjihad dijalan Allah sebagaimana umat muslim diwajibkan untuk shalat, puasa dan zakat. Karena jihad adalah tanda keimanan seseorang.
Berkenaan dengan politik ada pendapat dua ulama besar yang mewakili dua golongan.
Ibnu Taymiyah
Politik adalah tindakan yang mendekatkan manusia pada kebaikan dan menjauhkan diri dari kerusakan selama tidak bertentangan dengan syariah.
Imam Al Ghazali
Dunia adalah ladang akhirat, dunia tidak sempurna kecuali dengan politik. Penguasa dan agama adalah kembaran yang harus bersinergi, agama ibarat tiang sedang penguasa adalah penjaganya. Sesuatu yang tidak mempunyai tiang pasti akan roboh dan sesuatu yang tidak dijaga pasti akan hilang. Seorang pemimpin dan kekhalifahan diartikan sebagai wakil Rasulullah dalam menjaga agama dan menata kehidupan dunia.
Dari dua pendapat dua ulama diatas rasanya tidak ada alasan bagi umat muslim untuk men-tabukan politik karena sesungguhnya politik juga salah satu bagian dari kehidupan beragama. Yang terpenting adalah komitment kita dalam menentukan dan menjalankan kehidupan dengan baik berdasarkan rambu-rambu syariah Islam. Yang terjun dipolitik maka jadilah politisi yang berakhlak baik dengan mengedepankan kemaslahatan bersama bagi yang tidak ingin terjun sebagai politikus maka jadilah umat yang baik dan selalu mengingatkan mereka dengan cara yang baik dan benar.
Bagi saudaraku yang terjun dikancah politik, jadilah politikus amanah yang mentauladani Rasulullah, jauh dari khianat dan jauh dari kedzaliman, semoga Allah Ta'alla membimbing antum kejalan yang lurus yaitu shiratal mustaqim. Aamiin.
Nah bagaimana dengan pendapat anda..? silakan share di kolom komentar dibawah.






