Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Friday, October 24, 2014

Renungan 1 Muharram 1436 H....


Hari berganti hari, bulan berganti bulan
Tahunpun ikut berlalu seiring berjalannya waktu
Tak terasa usia makin bertambah
Kesempatan hidup makin menyusut
Kesempatan beramalpun makin tersita
Waktu ibarat pedang, jika kita tidak bisa mempergunakannya
maka waktu yang akan menggelincirkan kita
Jika kita tidak menyibukkan dengan kebenaran
maka kita akan disibukkan dengan kebatilan

Sehari ada 24 jam

berbagai kenikmatan telah diberikan-Nya
tidak lebih dari tiga persen waktu yang diminta dari kita
untuk menunaikan ibadah fardu kepada-Nya
Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman
bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya
untuk hari esok (akhirat)."
(Al-Hasyr: 18)

Sudahkah kewajiban itu kita penuhi…?
Atau justru kita makin larut dengan rutinitas sehari-hari
Hingga merasa diri ini tak akan pernah mati
Padahal “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati
Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu
Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga
maka sungguh ia telah beruntung “
(Ali Imran : 185)

Saudaraku…!
Mari sejenak instrospeksi dan koreksi diri
Berapa banyak waktu digunakan untuk kepentingan duniawi
Berapa banyak waktu yang dipersembahkan untuk Illahi
Sesungguhnya baik buruknya kehidupan diakherat kelak
Tergantung dari cara hidup kita didunia
Barang siapa mengejar dunia maka hanya dunia yang didapatkannya
Barang siapa mengejar akherat, maka dunia dan akherat akan didapatkannya
sesungguhnya kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal
"Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua,
tentang apa yang mereka kerjakan dahulu."
(Al-Hijr: 92-93)

Ya Allah….., Sungguh kami manusia yang dzalim
Hanya pandai menuntut hak atas kenikmatan surga-Mu
Akan tetapi kami masih suka bermalasan
Sering lalai menunaikan kewajiban
Masih sering bermain-main dengan waktu
Serta menunda-nunda untuk beribadah kepada-Mu
Masih suka mendahulukan kepentingan duniawi
Dibanding kepentingan akherat yang hakiki
Padahal Allah telah berfirman
"Sesungguhnya kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah
kesenangan yang memperdayakan."
(Ali Imran :185)
“Maka Janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu
dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu
dalam (mentaati) Allah”
(Luqman : 33)

Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu
dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut
menyia-nyiakan usia dan dari sifat kikir
Aku juga berlindung kepada-Mu
dari siksa kubur dan dari fitnah kehidupan serta kematian

Saudaraku…!
Setiap kehidupan pasti ada kematian
Kematian adalah suatu misteri yang tidak bisa diprediksi
Kita tidak pernah tahu maut kan menjemput
Pernahkah berpikir kematian akan datang sesegera mungkin
Sementara kita meyakini adanya kematian
Tapi kita tidak segera mempersiapkan menghadapi kematian
Kita meyakini atas kenikmatan surga
Tapi masih malas beribadah agar bisa masuk surga
Kita meyakini atas pedihnya siksa neraka
Tapi enggan meninggalkan maksiat agar terhindar dari api neraka
Sesungguhnya orang yang perkasa adalah
Orang yang banyak mengingat kematian
Dan yang sungguh-sungguh dalam mempersiapkan
Dan menghadapi datangnya kematian

Sudahkah kita mempersiapkannya
Dan sejauh mana persiapan kita untuk menghadap sang khaliq
Sementara banyak waktu kita yang terbuang dengan sia-sia
Dan totalitas ibadahpun masih diragukan
Apa lagi yang bisa kita banggakan dihadapan Allah
"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan
diminta pertanggungjawabannya."
(Al-Israa': 36)

Ya Allah yang Maha Pengampun
Ampunilah atas kebodohan kami
Hamba yang tidak pandai bersyukur
Tidak merasa puas atas rizki yang Engkau berikan
Tidak merasa puas dengan kenikmatan yang Engkau curahkan
Padahal setiap hembusan nafas adalah kehidupan
Setiap pandangan mata adalah keindahan
Setiap langkah adalah kekuatan
Suami/istri yang amanah adalah anugerah terindah
Anak-anak yang shaleh dan sholehah adalah harta dan kebanggaan

Ya Tuhan kami...!
Kami telah Menganiaya diri Kami sendiri
Dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada Kami
Niscaya pastilah Kami Termasuk orang-orang yang merugi
(Q.S. Al-‘Araf : 23)

Ya Tuhan kami
"Janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan
Sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami
Dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau
Karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)"
(QS. Ali Imran : 8)

Ya Tuhan kami
Hanya kepada Engkaulah Kami bertawakal
Dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat
Dan hanya kepada Engkaulah Kami kembali
Ya Tuhan Kami
Janganlah Engkau jadikan Kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir
Dan ampunilah Kami Ya Tuhan kami
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana
(Q.S. Al Mumtahanah : 4-5)

Ya Tuhan Kami
Ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan
Dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami
Dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir
(Q.S. Ali Imran : 147)

Tidak ada Tuhan selain Engkau
Maha Suci Engkau sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim
(QS. Al Anbiyaa' : 87)

Ya Rabb kami
Beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami
Yang telah beriman lebih dulu dari kami
Dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami
Terhadap orang-orang yang beriman
Ya Rabb kami...!
Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang
(Q.S. Hasyr : 10)

Ya Tuhan kami
Janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat
Sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami
Ya Tuhan kami
Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya
Beri ma'aflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami Engkaulah Penolong kami
Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir
(QS. Al Baqarah : 286)

Ya Tuhanku
Sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau
Dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya
Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku
Dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku
Niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi
(QS. Huud : 47)

Aku berlidung kepada-Mu
Dari segala kejelekan yang aku perbuat kepada-Mu
Engkau telah mencurahkan nikmat-Mu kepadaku
Sementara aku senantiasa berbuat dosa
Maka ampunilah dosa-dosaku
Sebab tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau
(Imam Bukhari dan Muslim)

Ya Allah, Tuhan kami
Sesungguhnya raga ini amat lemah
Tidak sebanding dengan kekuatan adzab-Mu
Maka kami berharap limpahan kasih sayangmu
Yang bisa menyelamatkanku dari nerakamu
Kami hanya bisa menunduk dan bersujud dihadapan-Mu
Hanya berharap pada ampunan-Mu

Amin Ya Rabbal Alamin...!

"Selamat Tahun Baru 1436 H"



Repost

Wednesday, October 8, 2014

Islam dan Politik

Bismillahirrahmanirrahim

Akhir-akhir ini dimedia makin ramai pemberitaan tentang hingar-bingarnya dunia politik di negeri ini sehingga memunculkan berbagai persepsi dari masyarakat muslim. Bahkan banyak dikalangan ulama melarang umatnya agar tidak ikut terjun didunia politik praktis. Ada pendapat bahwa politik itu kotor, kejam, sadis dan penuh intrik sedangkan agama adalah suci dan sakral sehingga tidak usah dikotori hati ini dengan memikirkan politik. Dari pemahaman itu pada akhirnya memunculkan sikap sinis dan apatis terhadap dunia politik.

Sering kita mendengar kata-kata “jangan dicampur adukkan antara Islam dengan politik, karena Islam itu suci dan sakral sedang politik itu kotor dan menjijikkan” sekilas kata-kata itu benar tapi sebenarnya bathil hanya menunjukkan suatu kebodohan dari orang-orang yang tidak mengerti makna Islam yang sesungguhnya. Mereka memandang Islam dari sudut pandang yang sangat sempit.

Padahal sesungguhnya Islam adalah system integral yang tidak mengenal pemisahan antara aspek satu dengan aspek yang lain, Islam yang dibawa oleh Al Qur'an dan As-sunnah serta ulama-ulama salaf adalah Islam yang mencakup segala aspek kehidupan yaitu aspek spiritual, moral, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, hukum, politik, jihad dan lain-lain, karena disegala sektor Islam mempunyai target dan tujuan tertentu.

Islam juga system yang universal meliputi seluruh realitas hidup mencakup negara dan tanah air, pemerintahan dan rakyat, harta benda dan materi, kerja usaha dan kekayaan, militer dan pemikiran juga jihad dan seruan dakwah. Islam juga merupakan akidah dan ibadah yang benar dan lurus, jadi sangat ironis sekali justru dikalangan umat islam sendiri mencoba memisahkan antara agama dengan kehidupan duniawi seperti halnya agama nasrani memisahkan antara dewan gereja dengan pemerintahan ataupun kelompok sekuler yang memisahkan antara agama dengan kehidupan duniawi.
 

Menyikapi hal tersebut diatas timbul pertanyaan dalam diri. Benarkah Muslim tabu terjun di dunia politik? Jika benar berarti kita sebagai muslim harus rela diatur dan dikendalikan oleh umat non muslim?


Sebelum membahas terlalu jauh ada baiknya kita ketahui apa makna politik itu sendiri. Adapun definisi politik dari sudut pandang Islam adalah pengaturan urusan-urusan (kepentingan) umat baik dalam negeri maupun luar negeri berdasarkan hukum-hukum Islam. Pelakunya bisa negara (khalifah) maupun kelompok atau individu rakyat

Dari sedikit definisi diatas jelas bahwa politik bukanlah hal yang tabu, karena politik itu sendiri adalah salah satu cara yang dipakai untuk menciptakan kebaikan dalam lingkungan bermasyarakat. Memang banyak fenomena yang terjadi bahwa politik sebagai sarana mencari kekuasaan dan kemewahan, tetapi sebagai muslim yang baik tidak boleh berpikiran dangkal yang hanya berdasarkan fenomena dipermukaan saja melainkan harus berpikir secara mendalam sampai keakarnya dan selalu bersikap kritis.

Politik dibagi menjadi dua bagian:

  1. Politik Negatif : Menjalankan politik yang didasarkan untuk mencari kekuasaan untuk kepentingan pribadi atau golongan tertentu.
  1. Politik Positif : Menjalankan politik sebagai amanah untuk kemaslahatan umat bersama yang didasari semata karena Ridha Illahi.

Dari dua jenis politik tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwasanya bukan politiknya yang buruk melainkan jiwa pelaku politik itu sendiri yang perlu difitrahkan.

Rasulullah adalah seorang politikus ulung, sekaligus sebagai da’i, guru, hakim juga sebagai kepala negara yang mampu mengendalikan umat dengan baik dengan cara yang baik pula yang disertai dengan kebeningan hati. Begitu juga empat khalifah sesudahnya juga seorang politikus yang menjalankan system pemerintahan mewarisi kebaikan akhlak Rasulullah.

Akan tetapi di jaman sekarang akibat makin meningkatnya nilai-nilai keburukan seperti korupsi, kolusi dan nepotisme juga karena terjadinya degradasi moral para penguasa dan pelaku politik akhirnya banyak umat muslim yang membenci politik dan hal-hal yang berhubungan dengan politik akibat kesalahan persepsi yang harus diluruskan.

Justru situasi inilah yang dimanfaatkan oleh musuh islam untuk menjauhkan masyarakat muslim dari panggung politik dengan harapan dapat memangkas kekuatan Islam dari kekuasaan sebuah Negara, dengan demikian maka masyarakat muslim akan lebih mudah dikendalikan.

Kita tentu masih ingat dengan semboyan kelompok Islam Liberalisme dengan motto “ISLAM YES, POLITIK NO” secara sepintas terkesan baik dan mengajak umat muslim untuk lebih religius dan memfokuskan diri dalam ritual ibadah. Tetapi jika kita sadar bahwa sebenarnya umat islam secara tidak langsung telah digiring untuk semakin menjauh dari dunia politik pada akhirnya menjauh pula dari daulah Islamiyah yang kita dambakan dan yang lebih parah lagi umat muslim akan dikendalikan oleh non muslim.

Padahal sesungguhnya Islam tidak menyukai jika seorang muslim hanya tinggal didalam rumah sementara iblis berkeliaran bebas dimana-mana dan membuat kerusakan di muka bumi ini. Seorang muslim tidak boleh mencukupkan diri dengan hanya berdzikir, bertasbih dan bertahlil dimasjid-masjid saja tetapi Islam juga mewajibkan umat muslim berperan serta menghancurkan kejahatan dan kemungkaran dengan cara amar ma'ruf nahi munkar dan berjihad dijalan Allah sebagaimana umat muslim diwajibkan untuk shalat, puasa dan zakat. Karena jihad adalah tanda keimanan seseorang.

Berkenaan dengan politik ada pendapat dua ulama besar yang mewakili dua golongan.

Ibnu Taymiyah
Politik adalah tindakan yang mendekatkan manusia pada kebaikan dan menjauhkan diri dari kerusakan selama tidak bertentangan dengan syariah.

Imam Al Ghazali
Dunia adalah ladang akhirat, dunia tidak sempurna kecuali dengan politik. Penguasa dan agama adalah kembaran yang harus bersinergi, agama ibarat tiang sedang penguasa adalah penjaganya. Sesuatu yang tidak mempunyai tiang pasti akan roboh dan sesuatu yang tidak dijaga pasti akan hilang. Seorang pemimpin dan kekhalifahan diartikan sebagai wakil Rasulullah dalam menjaga agama dan menata kehidupan dunia.

Dari dua pendapat dua ulama diatas rasanya tidak ada alasan bagi umat muslim untuk men-tabukan politik karena sesungguhnya politik juga salah satu bagian dari kehidupan beragama. Yang terpenting adalah komitment kita dalam menentukan dan menjalankan kehidupan dengan baik berdasarkan rambu-rambu syariah Islam. Yang terjun dipolitik maka jadilah politisi yang berakhlak baik dengan mengedepankan kemaslahatan bersama bagi yang tidak ingin terjun sebagai politikus maka jadilah umat yang baik dan selalu mengingatkan mereka dengan cara yang baik dan benar.

Bagi saudaraku yang terjun dikancah politik, jadilah politikus amanah yang mentauladani Rasulullah, jauh dari khianat dan jauh dari kedzaliman, semoga Allah Ta'alla membimbing antum kejalan yang lurus yaitu shiratal mustaqim.  Aamiin.

Nah bagaimana dengan pendapat anda..?  silakan share di kolom komentar dibawah.


 

Tuesday, September 23, 2014

Kisi Dua Hati Satu Cinta

Pulang dari sekolah Nina berlari-lari kecil kearahku, dengan berseragam putih merah rambut dikepang dua tampak sangat manis dan lucu. Nina adalah anakku semata wayang yang sangat kusayangi, dia yang membuatku bertahan dan bersemangat untuk mengarungi kehidupan yang keras di kota ini, apapun kulakukan demi kebahagiaannya.

"Mama..! besok malam Nina mau main drama dalam rangka menyambut datangnya Ramadhan di masjid Al-Ikhlas, mama datang ya!" pinta Nina memelas

"Aduh mama kan kerja Sayang!"

"Tolong sekali ini aja ma..., ya ma" Nina merajukku

Harus kujawab apa ke Nina, aku merasa tidak pantas ditempat yang suci seperti masjid, apalagi harus memakai gamis dan jilbab symbol kesucian muslimah.

"Kok diam sih ma, mama datang ya besok" suara Nina membuatku terkejut.

"Coba deh nanti mama izin sama boss dulu ya, kalau memang bisa libur, besok mama datang ya sayang" jawabku sembari membelai rambu Nina.

"Horeeee... mama bisa datang, besok kasih komentar ya ma, gimana akting Nina didrama itu" Nina kegirangan sambil meloncat-loncat

"Iya nak, sekarang latihan yang giat ya, biar besok aktingnya bagus" 

"Siap Ma, Nina ganti baju terus ke tempat latihan dulu ya ma" ucap Nina sambil berlari kekamarnya dengan perasaan berbinar-binar.

Seharian ini pikiranku benar-benar kacau, niat hati ingin melihat pentasnya Nina tapi aku tidak pe-de untuk datang kemasjid, masih pantaskah aku menginjakkan kaki dimasjid? Itulah pertanyaan yang selalui menghantuiku. Aku bukan Rika tujuh tahun lalu yang sering datang kemasjid, Rika yang rajin tharawih dan bertadarus Qur’an ketika Ramadhan, tapi kini aku hanya Rika seorang wanita penghibur, Rika seorang PSK. Tapi jika tidak datang sungguh tidak bisa membayangkan betapa kecewanya Nina nanti.

Kupandangi Photo Nina yang tersemat dimeja kamarku, dia tampak sudah mulai beranjak remaja, usianya sudah menjelang sebelas tahun, Nina adalah anakku satu-satunya hasil pernikahan dengan Erdi yang sekarang entah kemana tidak tahu rimbanya, sejak enam tahun yang lalu aku berpisah dengan Erdi. Masalahnya klasik sudah tidak ada kecocokan lagi, setelah resmi pisah, Erdi menghilang tanpa memberi sepeserpun nafkah buat Nina. Jangankan nafkah menjengukpun sudah tidak pernah lagi, padahal Nina adalah darah dagingnya.

Sebagai ibu rumah tangga biasa aku sempat pontang-panting membiayai hidup keluargaku, pekerjaan apapun kulakukan demi membeayai hidup keluarga. Ayahku sudah meninggal tanpa meninggalkan harta berharga kecuali sepetak rumah sederhana yang kutempati sekarang. Ibuku hanya penjual sayur keliling dengan penghasilan hanya cukup untuk makan sehari. Aku sudah mencoba memasukkan lamaran demi lamaran kekantor-kantor dan instansi lainnya, tapi bermodalkan ijazah SLTA susah bersaing dengan S1 apalagi yang S2. Ini salahku juga mengapa aku memilih menikah daripada menyelesaikan kuliah yang sudah semester empat.

Bersyukur atas referensi teman aku bisa bekerja di resto yang cukup terkenal, meskipun dengan gaji pas-pasan untuk ukuran kota besar seperti Surabaya tapi setidaknya ada masukan untuk menyambung hidup keluarga. Bekerja diresto itu membawaku berkenalan dengan seorang wanita setengah baya. Aku biasa memanggilnya Tante Tetty, dia pelanggan tetap diresto kami, orangnya baik sering memberikan uang tips padaku, meski sudah kutolak dia masih ngotot memberinya. 

Suatu ketika tante Tetty memanggil dan mengajakku bicara, dia menanyakan masalah gajiku, masalah keadaan keluargaku dan sebagainya, dia sepertinya menaruh simpati terhadap kondisi keluargaku. Sambil mengeluarkan kartu nama tak lupa menyelipkan beberapa lembar uang kepadaku, menurut Tante Tetty aku bisa memberikan pelayanan yang cukup baik kepada pelanggan, itulah yang membuatnya suka. Diakhir pertemuannya dia mengundangku untuk datang kerumahnya.

Suatu hari tante Tetty menelpon dan menyuruhku untuk datang kerumahnya. berbekal kartu nama yang diberikan aku menuju kerumah Tante Tetty.  Ditemani teriknya matahari dan pengapnya udara di angkot aku mencari-cari alamat yang tertulis di kartu nama, setelah tanya sana-sini akhirnya kutemukan juga alamatnya. Rumahnya cukup mewah di bilangan komplek elite di Surabaya barat.

Tante Tetty mengajakku bekerja di salah satu club malam dengan iming-iming uang yang menggiurkan, jauh dibanding dengan gajiku sebagai pelayan resto. Aku gelap mata melihat angka yang fantastis itu, tanpa menanyakan apa jobnya langsung aku setujui. Di otakku yang ada hanya uang, uang dan uang. Setelah keluar dari resto aku mulai kerja di clubnya Tante Tetty, kupikir aku hanya sebagai bartender melayani minum para tamu-tamu yg hadir, ternyata aku juga melayani yang lainnya sampai urusan dikamar yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh suami istri.

Pada awalnya aku merasa risih dan berontak harus melayani orang yang belum pernah kukenal dan tanpa ada rasa cinta sedikitpun. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, tidak ada pilihan lain kecuali pasrah dan menyerah pada pelukan laki-laki satu ke laki-laki lainnya. Apalagi hasil yang kudapat jauh lebih besar dari sebelumnya. Maka akupun semakin enjoy dengan dunia malam yang membawaku semakin dalam jauh kejurang kesesatan.


hatiku menjadi ajang peperangan dahsyat l Sumber gambar

"Tok..tok..tok…!", pintu kamar ada yang mengetuk, mengagetkan dari lamunanku

"Mama.. mama…" suara Nina yang memanggilku.

"Ada apa Nin" tanyaku sembari membuka pintu kamar.

"Nina berangkat dulu ya ma, sekalian sholat maghrib dimasjid. Nanti mama datang ya, Nina tunggu" ucapnya sembari mencium tanganku. Aku tersenyum bangga melihat semangat Nina. 

Kuambil jilbab dan baju gamis yang sudah lama jadi penghias lemari kamar. Kupandangi dan kubolak-balik baju itu, tidak pantas rasanya baju ini menempel dibadanku yang sudah berlumuran dosa dan maksiat ini, mataku perlahan mulai membasah, Nina telah membuatku dilema teramat sangat. Perlahan kukenakan gamis dan jilbab, Hatiku resah menahan gejolak jiwa, tapi kulawan perasaanku sendiri. Yang kupikirkan hanya ingin melihat senyum Nina merekah malam ini.
  
Ba’da Isya aku sudah berada dimasjid. Acara di mulai dengan pembacaan Ayat-ayat suci Al Qur’an, lantunan ayat-ayat yang dibacakan oleh Qori benar-benar telah meruntuhkan tembok hatiku, seolah sebuah batu besar menghantam dadaku, membuatku sesak dan sulit untuk bernafas, badanku lemas, lunglai tidak bertenaga, aku hanya bisa beristighfar berulang-ulang.

Bathinku tengah berkecamuk menjadi ajang peperangan dahsyat antara nilai-nilai kebaikan dan keburukan, dadaku bergemuruh hebat melebihi gempa berkekuatan 9 SR. Aku masih tetap beristighfar dan terus beristighfar hingga lambat-laun gema suara Illahi itu makin lembut ditelingaku, dingin menyentuh hatiku,  Subhanallah aku rindu dengan lantunan firman-firman-Mu ya Allah,  aku rindu menyebut Nama-Mu ya Allah. Nama yang bertahun-tahun telah aku lupakan.

Acara demi Acara telah dilalui sebagai acara penutup adalah drama yang dimainkan oleh anak-anak TPA Islam. Dengan lincahnya bocah-bocah berakting sesuai peran yang dimainkan, kulihat Nina memerankan sebagai seorang anak yang sedang ditanya malaikat Munkar dan Nakir.

"Wahai Manusia"

"Siapa Tuhanmu"   "Tidak Tahu"  jawab Nina

"Apa Agamamu?"    "Tidak Tahu"

"Apa nama kitab sucimu?"   "Tidak Tahu" 

"Siapa Nabimu?"    "Tidak Tahu" 

Maka terdengar suara seruan dari langit: "Hamba-Ku berbohong. Maka hamparkanlah untuknya sebagian dari hamparan neraka dan bukakanlah baginya sebuah pintu dari pintu neraka. Lalu datangkanlah baginya panas dan racun api neraka. Allah menyempitkan kuburan baginya hingga tulang rusuknya berceceran. Kemudian datanglah kepadanya seorang laki-laki berwajah buruk, berpakaian buruk, dan berbau busuk, lalu berkata, 'Bergembiralah dengan apa yang menyedihkanmu. Inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu"

"Wahai Malaikat penjaga kubur. Jangan hanya salahkan aku !, karena semasa hidup tidak pernah diajari orang tuaku tentang Siapa Tuhanku, agamaku, kitab suciku dan Nabiku" dengan lantang Nina mengucapkan kata demi kata didalam naskah dramanya.

jalan hidup masa depanku sudah kuputuskan l sumber gambar

Kalimat itu kembali membuatku tersungkur, bukan hanya batu besar yang menghantam dadaku tapi sebilah belati juga telah menyayat-nyayat hatiku, penderitaan bathin semakin bertambah parah, sekumpulan dosapun tampak berbaris rapi didepan mataku. Aku tidak mampu berpikir apa-apa lagi, lidahku kelu. Lagi-lagi hanya kalimat istighfar yang mampu kuucapkan dalam hati seiring desah napas dan isak tangis yang tertahan.

Seusai Acara aku segera pulang dan bergegas masuk kamar. Aku menangis sejadi-jadinya, "aku merasa tidak pantas menjadi ibu bagi Nina, aku merasa kotor bersanding dengan anakku yang masih bersih suci, aku bukanlah mama yang layak di teladani bagi anakku, maafkan mama nak tidak bisa menjadi mama yang terbaik bagimu". hujatku pada diri sendiri.  

Ya Allah Aku ingin bertaubat, "aku ingin kembali padamu, ampunkanlah aku, terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau sang maha pengampun dosa".  Segera kuambil Air wudhu, air wudhu pertamaku sejak tujuh tahun lalu. Diatas sajadah biru ini ingin kusematkan janji suci pada Illahi, kubentangkan harapan masa depan kepada sang Maha Pencipta, kupasrahkan hidup dan matiku hanya kepada sang pemilik jiwa ini.  Ya Allah, izinkanlah malam ini hamba kembali kepadaMu, bersimpuh dihadapanMu dan bertaubat kepadaMu.

"Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil 'alamin".
 
***
Jalan hidup masa depanku sudah kuputuskan, ingin kuhabiskan hari-hariku selalu bersanding dengan Ridha-Nya. Tapi masih ada tersisa kegamangan dipikiranku, apakah aku harus menceritakan status pekerjaanku kepada Nina?, yang Nina tahu aku bekerja sebagai pelayan resto. Ah sungguh tidak sampai hati aku melukai hatinya, tapi bagaimana jika suatu saat nanti Nina tahu keadaanku yang sebenarnya, ah benar-benar bingung aku dibuatnya

Aku keluar dari kamar mengambil segelas air putih dari kulkas, barangkali bisa sedikit mendinginkan otakku dan menenangkan hatiku. Kulangkahkan kakiku perlahan menuju kamar Nina.

"Nina belum tidur sayang"

"hehehe.. belum ma"

"Mama mau ngomong sebentar ya sayang" kataku sambil duduk diranjang

"Mau ngomong apa sih ma" Nina mengernyitkan dahinya.

Ah... Haruskah aku ceritakan keadaanku pada Nina, apa dia sudah cukup dewasa menerima kenyataan ini.  Atau bahkan hanya akan menjadi beban bagi perjalanan hidupnya nanti.

"Mau ngomong apa ma" Nina mengulangi pertanyaannya.

"Oh iya.. eh... ehm... ini sayang" aku dibuatnya gelagapan dan sedikit salah tingkah.

"Mulai besok mama sudah putuskan untuk keluar dari tempat kerja, mama akan cari kerja lain yang bisa pulang sore, agar malamnya bisa temani Nina belajar, bisa temani Nina ngaji dan bisa menceritakan dongeng penghantar tidur untuk Nina"

"Benarkah ma" mata Nina terbelalak seolah tidak percaya.

"Iya" aku menganggukkan kepala.

"Horeee..! Nina senang, Nina bangga deh sama mama, Nina sayang banget sama mama" Nina meloncat dari ranjangnya dengan kegirangan langsung memeluk erat tubuhku.

"Apa masih pantas aku menjadi mama yang dibanggakan anakku, bagaimana jika suatu saat Nina tahu keadaanku sesungguhnya, masih adakah rasa bangga itu?. Ah biarlah waktu yang akan menjawab" desahku dalam hati


Terimakasih Ya Allah, aku bisa menyambut Ramadhan ini dengan hati yang cerah berwarna dan kehidupan yang baru.






Sebuah Pengakuan

Tuesday, September 9, 2014

Mainkan Layang-layang Disaat Yang Tepat


"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri: (QS. Ar Ra'du : 11)

Bismillahirrahmanirahiim
Sungguh aku harus selalu mensyukuri nikmat-nikmat yang diberikan-Nya, Hari ini aku dipertemukan dengan seorang yang hebat, yang semakin memotivasiku untuk terus berjuang tanpa mengenal kata menyerah. Rasanya bukan sebuah kebetulan jika Allah mempertemukan aku dengan sahabatku semasa di SMP dulu, tentunya ada hikmah dibalik itu, sebuah pertemuan yang sangat berharga bagiku, berbagai pelajaran hidup dipaparkan dengan jelas dan gamblang.


pict taken here

Malam itu disalah satu Hypermart di Surabaya, kulihat ada sepasang mata yang menatapku, dari cara menatapnya seolah-olah ingin menyapaku tapi ada keraguan dihatinya. Akupun merasakan hal serupa dengan lelaki tersebut, perasaanku seperti pernah bertemu dengannya tapi kapan dan dimana aku tidak tahu, kucoba mengingat-ingatnya, tapi aku benar-benar lupa. Ah sudahlah barangkali ini perasaanku saja, aku berlalu dari lelaki itu menuju ketempat swalayan.

Entah karena memang Allah ingin memberi pelajaran pada hidupku, di tengah asyiknya aku mencari-cari barang yang kuinginkan, tiba-tiba aku ketemu lagi dengan lelaki tadi, dia sudah berdiri persis di sampingku, kami sempat kaget dan hanya saling pandang. Untuk menghilangkan kekakuan aku melempar senyum padanya, diapun membalas senyumku, kuberanikan diri untuk menyapanya. 

“Maaf jika saya salah, sepertinya pernah mengenal anda”, aku memulai pembicaraan.

"Iya betul, saya sepertinya juga pernah mengenal anda”, lelaki membalas sapaanku. 

Sambil mengingat-ingat kami saling bertanya dan saling memperkenalkan diri. Serentak hampir bersamaan kami tertawa. Ya Allah ternyata dia adalah si Aries, teman SMP-ku, kamipun berjabat tangan dengan erat dan sejenak melepas kangen dengan bercerita-cerita. Aku dan Aries memang teman sekelas waktu SMP, kebetulan kami punya kegemaran yang sama yaitu melukis tapi Aries lebih suka gaya surealisme sedangkan aku naturalisme.

Aries bukanlah tergolong anak yang cerdas tapi dia menutupi kekurangannya dengan cara mau bertanya dan mau bekerja keras karena dia memang type seorang yang pekerja keras. Tapi kenapa sekarang Aries memakai penyangga kaki? apa yang terjadi dengan kakinya, gumanku dalam hati sambil melirik penyangga kaki yang dipegangnya.

"Kamu pasti kaget, melihat keadaanku sekarang" Aries seolah tahu apa yang ku pikirkan, aku hanya diam takut menyinggung perasaannya.

"Ceritanya panjang, kapan-kapan kita ketemuan, rasanya sudah lama kita tidak bertemu" lanjut aries sembari menyodorkan kartu nama.

Kulirik alamat rumahnya ada di Komplek Margorejo, salah satu perumahan elite di Surabaya. Buru-buru akupun mengambil kartu nama padanya, setelah menyodorkan kartu nama, akupun berpamitan, dia berjanji akan menelponku untuk ketemuan.

*** 
Dua hari setelah pertemuan, aku ditelpon Aries dan diundang untuk datang kerumahnya, aku janji jam tujuh malam datang kerumahnya. Setelah Isya’ segera aku meluncur kerumahnya, tidak perlu waktu lama kira-kira dua puluh menit aku sudah berada didepan rumahnya, rumah yang lumayan besar untuk ukuranku. Tidak lama seorang wanita setengah tua membukakan pintu pagar untukku, serta mengantarku sampai teras, ternyata Aries sudah menungguku, akupun dipersilahkan masuk di ruang tamunya. Kulihat banyak lukisan-lukisan surealisme.
 
"Kamu masih seperti dulu Ris, suka dengan lukisan surealisme"

"Bagaimana dengan dirimu?" Aries balas bertanya.

"Aku tidak jauh-jauh dari dunia seni lukis, masih berkecimpung didunia desain grafis". pandanganku masih menikmati lukisan yang terpajang diruang tamu

Setelah kami cerita-cerita tentang masa lalu serta bertanya seputar masalah keluarga. Biasalah pertanyaan klasik untuk membuka pembicaraan adalah berapa anakmu, kerja dimana dan sebagainya, setelah itu kamipun terlarut dalam nostalgia masa SMP. Sampai akhirnya si Aris nyeletuk "kamu mungkin bertanya-tanya dengan kondisiku sekarang yang cacat", lagi-lagi aku tidak berani menjawab apa-apa, untuk menjaga perasaannya. Ariespun lalu menceritakan kejadian masa lalunya seperti yang aku tulis dibawah ini.

"Dulu selesai kuliah di Fak Tehnik, Alhamdulillah aku dapat kerja di bagian tehnisi sebuah perusahaan. Alhamdulillah posisiku sudah lumayan bagus, tapi suatu hari musibah datang padaku, karena kecelakaan kerja, membuat kakiku hampir saja diamputasi. Begitu kakiku satu cacat, aku seperti merasakan dunia ini sudah kiamat, aku benar-benar putus asa, apa yang bisa diharapkan dari seorang yang cacat sepertiku, siapa yang mau mempekerjakan orang yang cacat seperti aku. Aku merasakan diriku sudah seperti sampah, sikapku berubah drastis, aku menjadi seorang yang sensitif, gampang tersinggung dan gampang marah, mungkin karena stress yang berlebihan akibat ketidak siapanku menghadapi keadaan ini".

"Aku beruntung dianugerahi istri yang setia, baik dan shalihah, dia tidak pernah berhenti menyemangatiku, dia tidak pernah memperlakukanku selayaknya orang yang cacat". cerita Aries sambil memandangi photo wanita berjilbab yang terpasang didinding.

Aries berhenti sejenak sambil menyeruput kopi, seraya mempersilahkan aku untuk meminum kopi yang sudah dihidangkan

"Aduh maaf ya kok aku cadi curhat begini ya. Ayo silakan diminum kopinya". ucapnya dengan ramah.

“Terimakasih”, jawabku sambil mengambil cangkir kopi.

“Bolehkah aku bertanya Ries”. 

“Silakan”. 

“Bagaimana kamu bisa mengatasi kesulitan dengan keadaan barumu, bukankah tidak mudah untuk mengembalikan kepercayaan diri dengan keadaanmu”.

Aries menghela napas panjang
“Pertanyaan yang bagus itu, seperti sudah kukatakan tadi, istriku tidak memperlakukanku selayaknya orang cacat. Disela-sela keputus-asaan dan keterpurukanku aku berpikir, apapun dan bagaimanapun keadaanku, aku adalah seorang kepala keluarga, aku tetap menjadi imam bagi istri dan anakku. Diibaratkan sebuah negara sekuat apapun negara tersebut, jika dipimpin oleh pemimpin yang lemah, maka tinggal menunggu keruntuhannya, selama aku diam mengurung diri dirumah, kebutuhan hidup hanya dari sisa pesangon dan santunan dari tempat kerjaku serta dibantu dari gaji istriku yang tidak besar".

Apakah begini namanya pemimpin?, apa layak aku disebut Imam?. Dari situ aku berpikir, bahwa aku harus bangkit, aku tidak mau hidupku jadi benalu hanya mengharap pada orang lain. Dulu aku bisa bertahan menghadapi rasa sakit antara hidup dan mati kenapa justru setelah saya sudah bisa mengalahkan rasa sakit malah lemah dan putus asa. Setiap malam dalam do'aku selalu memohon untuk diberi kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi ujian ini, sampai suatu ketika aku seperti dibukakan pintu hatiku, "kaki boleh cacat, tapi hati dan pikiran tidak boleh ikut cacat".

"Saat itu aku seperti tertampar dan bangkit dari keterpurukanku. Dengan sisa uang yang ada aku jadikan untuk modal usahaku, jatuh bangun aku memulai dunia usaha, dunia yang masih baru bagiku, aku mulai dari A sampai Z ternyata hasilnya, tetap Nol Besar. Aku gagal total, boro-boro dapet untung bisa balik modal aja rasanya sudah alhamdulillah, aku kalah bersaing dengan pemodal yang besar. Ternyata semangat saja tidak cukup untuk bisa eksis di dunia usaha. Lagi-lagi pikiranku kembali goyah, aku mulai down lagi, dan lambat-laun semangatku mulai luruh. Aku seperti seorang bodoh yang tidak tahu harus berbuat apa",  papar Aries sambil memandangi bulan dan bintang dari balik jendela.

***

"Ditengah kefrustasianku aku duduk di dipinggir tanah lapang, disitu biasanya anak-anak ramai bermain layang-layang, mungkin dengan melihat kelucuan anak-anak bisa mengurangi kegalauanku. Tapi anehnya ada satu anak yang memilih duduk di bawah pohon tidak jauh dariku, dengan memegang layang-layang bocah itu hanya duduk tenang sambil memperhatikan situasi disekelilingnya". 

“Hei..!, mengapa engkau tidak mainkan layang-layangmu?”

Anak itu menoleh padaku sambil senyum.

“Rusakkah layang-layangmu”, tanyaku penasaran.

“Saya harus memainkan layang-layang disaat yang tepat Om”

“Hah, maksudnya apa itu?” aku makin penasaran.

“Tuh..! Om lihat sendiri, anak-anak yang bermain layang-layang, mana mungkin bisa terbang tinggi bila tidak ada angin yang berhembus, bermain layang-layang harus tahu saat yang tepat, layang-layangku harus bisa terbang lebih tinggi dari mereka”, jawab bocah itu dengan semangat dan percaya diri.

pict taken here
"Itulah kalimat dari seorang bocah yang bisa kembali menginspirasiku, “Mainkan layang-layang disaat yang tepat”, kata-kata itu saya aplikasikan dalam segala kehidupan, dalam kehidupan sehari, dalam hal ibadah juga dalam hal berbisnis, artinya selain kerja keras juga harus kerja smart, selain bertindak juga harus tahu ilmunya". Lanjut Aries dengan semangat

"Akhirnya aku memulai membuka bengkel motor kecil-kecilan, dengan sisa uang yang aku punya, kemudian sambil jual beli motor bekas. Dari situ saya bisa mengumpulkan modal sedikit demi sedikit, kemudian membuka bengkel mobil. Alhamdulillah, usahaku makin berkembang, sampai akhirnya aku bisa buka show room mobil dan rent car, dan bertahan sampai sekarang".

Kata kuncinya kita harus pintar-pintar memainkan layang-layang disaat yang tepat. Harus bisa melihat situasi yang tepat saat melakukan tindakan dan menentukan sikap

~oOo~

Subhanallah, pertemuanku dengan Aries benar-benar membuat semangatku seperti di charge kembali. Tidak ada kata tidak bisa jika kita mau berusaha, jangan menunggu saat yang ideal menghampiri kita, karena tidak ada yang ideal dalam hidup ini, lakukan perubahan, tapi tetap berpijak pada realitas hidup.

Terimakasih ya Allah..., terimakasih Aries, telah memberi inspirasi bagiku, saya seperti melihat lukisan baru dari karyaku yang sudah usang.




Monday, September 8, 2014

Kesempatan Hidup Kedua

Bismillahirahmanirahiim
Subhanallah siang ini aku dipertemukan Allah dengan seseorang yang membuat bulu kudukku berdiri. Banyak cerita inspiratif dan penuh hikmah dishare kepadaku .

Tidak sengaja aku bertemu dengan seorang lelaki tua itu. Siang itu aku mengantar istri untuk berkunjung kerumah temannya di jalan Embong Cerme Surabaya. Karena rumahnya masuk ke sebuah gang yang tidak terlalu besar dan buntu maka kuputuskan untuk memarkir mobil di Jalan raya pucuk gang. Surabaya lumayan panas siang itu, sambil menunggu istri kuputuskan untuk duduk berteduh dibawah pohon. Disitu sudah ada penjual bakso dan seorang laki-laki paruh baya yang tengah minum es kelapa muda. 

Kulihat kedua orang itu tengah asyik bercerita, entah apa yang diceritakanpun aku tidak seberapa perhatian. Pada awalnya aku cuek dengannya dengan mereka berdua sampai akhirnya seseorang lelaki tadi yang kutahu bernama Nico menyeletuk kepadaku. "Bapak ini punya cerita yang ajaib". Sikapku masih biasa saja, dalam hati apa yang ajaib dengan bapak ini yang notabene hanya seorang penjual bakso dan pembelinya juga tidak terlalu ramai. Baru kutahu setelah bapak penjual bakso tadi menceritakan pengalamannya tentang kesempatan hidup kedua yang diberikan oleh Allah Ta'ala.

Pak Radjiman
Pak Muhammad Radjiman atau biasa dipanggil Pak Radjiman adalah nama bapak penjual bakso itu. Didalam suatu kisahnya Pak Radjiman menceritakan bahwa suatu hari dia dibonceng putranya naik motor. Tanpa firasat apa-apa sebuah mobil telah menghantamnya hingga membuatnya terpelanting ke aspal jalan membuatnya tak sadarkan diri, dengan kepala yang terluka parah dan gigi yang rontok. Pak Radjiman baru sadar ketika beberapa jam setelah operasi dirumah sakit. Tapi ternyata luka yang dialami Pak Radjiman cukup parah sehingga kondisinya cukup kritis, sebentar sadar setelah itu tidak sadarkan diri lagi.

Setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit kemudian oleh dokter dinyatakan sudah meninggal karena menurut saksi-saksi dari keluargapun dia sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi. Rangkaian doapun dibacakan agar arwahnya mendapat pengampunan. Seperti jenazah yang lainnya maka Pak Radjimanpun ditempatkan di kamar jenazah sampai menunggu diambil oleh pihak keluarganya.

Malang bagi Jenazah Pak Radjiman, karena tidak adanya uang untuk menebus beaya perawatannya dirumah sakit maka jenazah tersebut harus rela ditempatkan di ruang es kamar jenazah untuk beberapa hari. Disitulah awal cerita dari Pak Radjiman yang membuat merinding bulu kudukku dan tak henti-hentinya beristighfar. Subhanallah pengalaman spiritual yang dibagikan oleh Pak Radjiman sungguh membuatku merasa manusia kotor yang hanya bisa berharap pada sifat rahman dan rahimnya Allah.

Didalam kubur Pak Radjiman didatangi oleh dua makhluk berbentuk cahaya, menanyakan tentang Siapa Tuhanmu, apa agamamu, apa kitab sucimu dan siapa Nabimu. Alhamdulillah semua pertanyaannya bisa dijawabnya dengan lancar. Karena Pak Radjiman termasuk orang yang taat beribadah dan suka mendatangi majelis ta'lim. Dari amal perbuatan baik didunia itulah yang banyak membantunya untuk bisa lolos dari adzab alam kubur. Aku jadi teringat dengan sebuah hadist tentang pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur yang persis seperti yang ditanyakan kepada Pak Radjiman.

Disuatu kesempatan Pak Radjiman diperlihatkan sebuah pemandangan yang tidak biasa, tampak olehnya berjuta-juta manusia yang kesemuanya dalam keadaan ketakutan disebuah tempat yang lapang tak berbatas, dan dalam waktu sekejap berjuta-juta manusia tadi sudah hilang ditelan bara api yang maha dahsyat panasnya. Dan ditempat lain tampak seorang pemimpin yang pernah dia tahu tengah dipukuli oleh tangannya sendiri ditendang oleh kakinya sendiri dan sebagainya hingga badannya hancur, kemudian dikembalikan utuh lagi dan dihajar lagi hingga hancur begitulah seterusnya. Sebagai gambaran bahwa begitulah salah satu bentuk siksaan seorang pemimpin yang tamak dan tidak amanah. Astagfirullah..

Dalam keseharian yang tampak dan terdengar hanyalah rintihan dan tangisan manusia yang disiksa, dibakar yang tidak pernah selesai. Sebuah gambaran akibat ulah dan perbuatan buruknya, kedzalimannya, kesombongannya semasa hidup didunia. Tidak sedikitpun amal baik dan buruk yang dilakukan semasa hidup lolos dari catatan amal baik dan lolos dari siksaan. Berapa banyak manusia dihatam dengan gada yang sangat besar hingga membuat tubuhnya hancur lebur. dan banyak pemandangan lain yang benar-benar mengerikan dan meluruhkan kesombongan diri.

Alhamdulillah, karena ketaatan dan kebaikan dalam habluminallah dan habluminannasnya Pak Radjiman diberi hadiah oleh dua hamba Allah yang berbentuk cahaya tadi berupa sebuah rumah yang indah. Rumah yang indah, tenang tidak kekurangan apapun serta ditemani beberapa wanita cantik jelita yang belum pernah dia temui semasa didunia. Dia itulah bidadari yang dijanjikan Allah kepada penghuni surga.

Pada suatu ketika Pak Radjiman bertanya dan meminta ijin kepada malaikat penjaga rumahnya.

"Jika diijinkan apakah boleh jika nanti Anak dan istri saya menempati rumah ini?"
"Tidak boleh" jawab penjaga rumah itu dengan tegas 
"Bukannya saya bekerja dan beramal baik itu juga untuk anak dan istri?"  
"Belum tentu, apakah anak dan istrimu baik amal perbuatannya"
"Anakku ada di pondok tentunya dia belajar agama dan istriku suka membaca Al Qur'an"
"Mungkin lahirnya tinggal di pondok atau suka membaca Al Qur'an tapi bagaimana dengan hatinya? jawab penjaga itu yang membuat Pak Radjiman tertunduk 
"Tapi jika diijinkan bolehkah saya menghadiri wisuda anak saya, karena dia sangat membutuhkan kehadiran saya" pinta pak Radjiman.

Dan berbarengan diijinkan untuk datang menghadiri wisuda sarjana putra pertamanya saat itu juga Pak Radjiman dibangunkan untuk diberi kesempatan hidup kedua.



Subhanallah...
Aku hanya bisa termangu seraya beristighfar mendengar penuturan kisah dari Pak Radjiman tersebut. Bukan itu saja ternyata Pak Radjimanpun ternyata termasuk orang yang sukses dalam mendidik putra-putrinya terbukti dari ketiga anaknya termasuk sukses dalam hal pendidikannya, dari ketiga putra-putrinya dua sudah lulus S1. Putra pertama menjadi kepala sekolah salah satu SMAN di Jakarta, yang kedua menjadi seorang perwira dan yang terakhir insya Allah segera wisuda kedokteran di Unair. 

Secara nalar memang sulit dipercaya jika Pak Radjiman yang hanya penjual bakso keliling dengan hasil yang tidak terlalu besar bisa mengantarkan putra-putrinya menjadi sarjana S1 di Unesia Malang, Unibraw malang dan Unair Surabaya. Tapi itulah Rahasia Allah, dengan ketakwaan, keyakinan atas kekuatan do'a, ikhtiar dan kepasrahan Allah memberikan rejeki kepada Pak Radjiman dengan cara memberikan kecerdasan kepada putra-putrinya  sehingga ketiganya berhasil meraih beasiswa dalam pendidikannya. Lagi-lagi aku hanya bisa termangu mendengar kisahnya.

"…Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya…." (QS. ath-Thalaaq : 2–3)

Dan diakhir pertemuan, Pak Radjiman sempat menitipkan pesan kepadaku agar menjaga dua hal terpenting didalam kehidupan sebagai seorang muslim

Pertama: Jaga sholat 5 waktu, karena sholat adalah bentuk penghambaan kita kepada Allah dan amal ibadah yang pertama dihisab dari seorang muslim adalah sholat 5 waktu.

Kedua: Jaga dan rawatlah kedua orang tua terutama ibu jika masih ada jangan sekali-kali membantah apalagi mendurhakai, karena ridhanya Allah tergantung ridhanya orang tua dan murkanya Allah tergantung dari murkanya orang tua.

Ya Allah ya Robb...
Telah Engkau beri pelajaran sekaligus peringatan kepadaku dengan cara yang tidak pernah kuduga sebelumnya, aku percaya ini adalah ayat-ayat kauniyah yang telah Engkau hamparkan didepan  mataku, Aku hanya sungguh berharap kepada sifat kasih-sayang-Mu yang bisa menolongku dari pedih adzab api neraka, karena jika hanya berharap pada amal kebaikanku semata, sungguh tidak layak diriku yang kotor menjadi penghuni surga-Mu.

Astaghfirullahaladziim....



Cerita dan photo ini saya posting sudah atas persetujuan yang bersangkutan, saya yakin dari kisah ini tidak ada maksud utk riya dari Pak Radjiman, insya Allah diniatkan sebagai pengingat kepada kita semua dengan harapan semoga ada hikmah dan manfaatnya.  Aamiin.

Sunday, July 28, 2013

Sebuah Asa Di Lampu Merah

Setiap pagi saat berangkat kekantor aku melintasi beberapa lampu merah diperempatan jalan, entah mengapa pagi ini mataku seperti digerakkan kearah bocah kecil yang sedang menjajakan setupuk koran ditangannya. Dihampiri satu persatu kendaraan yang berhenti dilampu merah. Berkali-kali kulihat pengemudi mobil maupun motor hanya geleng kepala sebagai isyarat tidak membeli korannya. Kulirik jam tangan masih pukul delapan pagi, masih ada waktu setengah jam lagi. Terdorong rasa penasaran aku berhenti dan menepi sambil terus memperhatikan reaksi si bocah menghadapi penolakan demi penolakan. 


Lampu hijau menyala kendaraanpun mulai melaju satu persatu, kesempatan untuk mengais pembeli harus ditunda. Si bocah kembali menepi duduk di trotoar persis bawah traffic light. Wajahnya menengadah menatap langit biru. Bibir mungilnya komat-kamit, mungkin seuntai doa yang ditujukan pada Robbnya, dilihatnya burung-burung terbang lincah kesana-kemari untuk mencari makanan seraya memberi isyarat agar dia tidak boleh lelah menjemput rizkinya. 

Lampu merahpun kembali menyala setengah meloncat dia kembali beranjak dari trotoar menghampiri mobil yang berjajar. Lagi-lagi gelengan kepala yang diterimanya, entah ini penolakan yang keberapa kalinya dia tidak sempat menghitungnya, dengan sabar dihampirinya satu-persatu pengemudi tersebut. Hanya sebuah harapan yang tersisa semoga masih ada yang akan membelinya.


Kaca mobil inova hitam dibuka, seorang lelaki paruh baya melambaikan tangan sembari memanggilnya. Entah karena memang perlu berita dikoran atau hanya rasa iba semata. Dari jarak kira-kira limapuluh meter aku masih mengamati bocah tadi. Tampak senyumnya mulai mengembang alhamdulillah dua orang sudah yang membelinya. Wajah si bocah makin berbinar ketika ada tiga, empat, lima dan seterusnya yang membeli korannya, hanya tersisa dua lagi yang ada ditangannya…, Subhanallah dari kesabaran dan sikap pantang menyerah telah dibalas tuntas oleh Allah Ta’alla. Kuhampiri si bocah tadi, karena tinggal dua Koran ditangannya maka aku beli dua-duanya walau sebenarnya dirumah sudah berlangganan koran.

YESS..!! si bocah itu mengepalkan kedua tangannya, sebuah ekspresi kegirangan karena korannya habis terjual. Sebelum dia pergi sempat kubertanya padanya, 
      
“adik umur berapa, apa tidak sekolah? tanyaku dengan rasa penasaran

“sembilan tahun, masuk siang” Bocah itu menjawab singkat.

“ayah dan ibunya kemana..??” aku bertanya lagi.

“ayah penarik becak" kembali dengan singkat dia menjawab sambil menunjuk                           ayahnya yang ada diseberang jalan.

"ibu tukang cuci pakaian”

"lantas uang dari jualan Koran untuk apa..?"
 
"untuk sekolah, sehari saya harus menjualkan sepuluh koran, dikumpulin untuk bayar sekolah" kata bocah itu dengan tegas.

Subhanallah bocah sekecil ini sudah mentarget dirinya dengan nominal angka-angka, hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, dia tidak mampu berpikir besok bagaimana, masa depannya jadi apa, yang dia sanggup pikirkan adalah bagaimana dia menghabiskan korannya hari ini, bagaimana dia menjalani hidup yang baik untuk hari ini. Ya Allah hari ini Engkau beri pelajaran dalam hidupku dengan ayat-ayat kauniyah-Mu, hari ini telah Engkau beri pelajaran padaku tentang kesabaran, istiqomah, rasa syukur dan sikap pantang menyerah serta harus punya goal setting dan tujuan hidup, tak terasa mataku berkaca, ketika menyadari atas berbagai kenikmatan dari-Nya yang jarang aku syukuri, hingga tak terasa mulutku berucap:

"Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan"

Ya Allah berilah pemahaman kepadaku akan makna dari tujuan ibadah dan target dalam ibadah, tiap hari sholat dan bersujud kepadamu, tapi sholatku masih belum bisa mencegah dari kemungkaran, sholatku hanya sebatas melaksanakan ketentuan dan kewajiban agama tapi belum menyentuh pada fungsi dan peran yang sesungguhnya dalam kehidupan.

Puasa Ramadhan selalu kujalani tapi hanya sebatas menahan diri dari makan dan minum mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, belum menyentuh esensi dan tujuan puasa yang sebenarnya yaitu menjaga hati dari sikap hasud serta mengendalikan perilaku dan ucapan dari kerusakan dan menjaga harmonisasi hubungan vertical dengan-Mu serta hubungan horizontal dengan sesama.

Masih banyak tujuan yang belum terealisasikan, banyak hikmah besar yang belum terwujud melalui ibadah-ibadah ritual. hanya melakukan ibadah tanpa berusaha menghidupkan ruh dari ibadah tersebut. Jiwa masih kering kerontang masih jauh dari sifat tawadhu' apalagi zuhud. ibadah kepada-Mu masih menjadi kewajiban bukan kebutuhan. 

Ya Allah ya Robb ampunilah aku atas kebodohanku ini.
  


Notice: "Jika kita yang telah diberi kenikmatan melebihi bocah penjual koran, tapi masih sering mengeluh, mari kita belajar kepada kegigihan bocah penjual koran"


Repost dari
Media Robbani


Tuesday, July 23, 2013

Berkawan Mentari

Teriknya matahari Surabaya terasa menusuk-nusuk kulit, Deru suara mesin kendaraan meraung memekakkan telinga, belum lagi asap dan debu yang berterbangan memenuhi jalanan yang kian macet sehingga makin membuat sesak didada. Sebenarnya siang ini enggan untuk keluar kantor kalau bukan ada pekerjaan penting yang membutuhkan keluar. Apalagi lagi sedang berpuasa harus sedikit berhemat tenaga.

Panas matahari kurasakan kian menyengat panasnya seperti tepat diubun-ubun, aku menepi dan berteduh dibawah pohon akasia yang besar nan rindang. Dipinggir jalan nampak seorang lelaki tua masih sibuk menyapu menyingkirkan sampah, kotoran dan daun-daun jatuh bertebaran di jalanan. Sesekali dia menyeka peluh yang membasahi sekujur mukanya dengan handuk putih yang tidak putih lagi. Bibirnya mengering mengisyaratkan sedang menahan rasa dahaga ditengah teriknya siang hari.

berkawan mentari l sumber gambar

Hanya karena jalanan macet dan padat membuat bapak tua harus minggir dan berdiri tepat disebelahku. Dengan seksama kuamati bapak tua ini ada rasa kagum dan rasa iba kepada lelaki renta ini. Dilihat dari fisiknya bapak ini mungkin usianya sudah kepala enam. tapi dedikasinya pada pekerjaannya patut diacungi jempol. Rasanya tidak salah jika disebut sebagai pahlawan kebersihan tanpa tanda jasa. Bapak tua itu tersenyum kepadaku saat beradu pandang denganku. sembari berucap kepadaku.

"Berteduh ya nak?, hari ini memang sangat panas"

"Iya Pak" jawabku sembari memberikan senyum balasan.

"Bapak puasa ? ucapku menyelidik

"Alhamdulillah bapak masih bisa puasa nak, karena puasa sudah menjadi keseharian bapak" Jawabnya mantab.

"Maksudnya gimana pak?" tanyaku agak penasaran.

"Meskipun bukan bulan Ramadhan bapak terbiasa makan seadanya, kalaupun tidak ada yang dimakan bapak harus puasa".

Jleebb..!!  kalimatnya membuatku tertohok.

"Oh iya, maaf ya pak bekerja di jalanan berdebu dan berpolusi serta udara yang panas begini apa tidak kehausan" rasa isengku muncul.

Pak tua itu tersenyum sambil menghela nafas dalam-dalam, tak lama kemudian dia berkata.

"Bapak sudah berteman matahari sejak duapuluh tahun lalu, matahari siang hari memang panas nak, tapi neraka jauh lebih panas lagi".

Astaghfirullah jawaban bapak itu sukses membuatku terjerembab KO. Aku hanya bisa diam terpaku melihat ketabahan dan keyakinan bapak tua itu.

Sementara diriku yang belum serapuh dia masih suka mengeluh dan tidak ikhlas menghadapi kondisi dan cuaca. Harusnya aku malu berteduh seperti ini hanya untuk menghindari udara panas yang sebenarnya suatu rahmat dari-Nya. Karena keadaan apapun adalah ada hikmah jika mau mengkajinya dan Allah tidak akan memberikan ujian tanpa memberi balasan yang sebanding. Baru merasakan udara panas sudah mengeluh apalagi merasakan panasnya api neraka.

Aku masih berdiri mematung disebelah motor yang kuparkir, sampai akhirnya dikejutkan oleh suara pak tua.

"Maaf ya nak, bapak tinggal dulu, bapak harus membersihkan sampah-sampah dijalanan".

"Eh.. oh.. iya pak silakan, saya juga mau melanjutkan perjalanan" jawabku terbata sembari menstarter motor dan melaju dengan membawa rasa malu pada diri sendiri.

Jika masih ada diantara kalian yang masih suka mengeluh dan cengeng seperti aku, mari kita buang jauh-jauh rasa itu, di luar sana masih banyak yang menjalankan ibadah puasa dengan perjuangan yang lebih berat. Bahkan konon dulu Rasulullah dan para sahabat dengan gagah berani berperang melawan musuh Islam di bulan Ramadhan yang terkenal dengan Perang Badar. Maka tidak ada alasan untuk menyurutkan semangat di bulan Ramadhan.

ALLAHU AKBAR..!!