Sunday, July 21, 2013

Ramadhan Dalam Dua Cerita

Siapapun yang merasa dirinya muslim insya Allah akan merasakan Ramadhan adalah bulan yang spesial, bulan yang penuh keutamaan penuh berkah dan maghfirah. Bulan Ramadhan selalu menghadirkan cerita yang menarik untuk dikisahkan. Menjalankan puasa Ramadhan selama tiga tahun dalam kesendirian dan penuh tekanan tentu bukan perkara mudah, butuh ketabahan dan kesabaran menutup telinga dari olok-olokan kedua kakak yang non muslim.

seperti pelangi membelah langit merah l sumber gambar

Peristiwa ini terjadi beberapa tahun silam atau tepatnya setelah aku memutuskan berhijrah keyakinan menjadi muslim. Perpindahanku menjadi muslim yang tidak direstui bahkan sangat ditentang keras orang tua membuatku tersisih dari keluarga sendiri. Segala aktifitas yang berhubungan dengan ibadah agama seperti diboikot kendati secara tidak langsung. Termasuk salah satunya ibadah puasa Ramadhan yang aku jalankan. Kisahnya lengkapnya pernah kutulis disini

Tidak ada menu khusus untuk berbuka puasa maupun makan sahur. Ah boro-boro menu khusus ada makanan tersaji dimeja makan saja sudah Alhamdulillah. Itulah cara ayah menghukum atas pembelotanku. Bila ada sajian makan malam yang tersisa berarti itu rezekiku untuk makan sahur, kalaupun tidak ada berarti harus siap-siap dengan menu keprihatinan berupa nasi putih dan krupuk menjadi santapan sehari-hari. 

Jika ada sisa uang bisa makan diluar atau beli mie instant di warung, tapi karena waktu itu masih menjadi mahasiswa belum punya penghasilan sendiri tentunya uang sangat terbatas dan tidak mungkin bisa tiap hari makan di luar. Mau minta uang ke ortu adalah hal yang tak mungkin kulakukan. Bagiku yang penting bisa melakukan ibadah sunah makan sahur sebagai salah satu rukun berpuasa, bukankah Rasulullah tidak mewajibkan untuk makan sahur dengan kemewahan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa akupun kadang ngiri melihat teman-teman yang bisa berbuka puasa dan makan sahur bersama keluarga dalam keceriaan. Tapi aku sadar setiap manusia punya cacatan takdir yang berbeda, biarlah aku nikmati suratan takdir ini dengan ikhlas apa adanya sembari melantunkan doa semoga kami sekeluarga bisa bersatu dalam jalinan iman pada dien-Nya yang agung.

Tidak pernah menduga jika pada Ramadhan keempat aku bisa menjalankan puasa bersama keluarga, setelah beberapa bulan sebelumnya orang tua dan kedua kakakku juga berhijrah menjadi muslim. Alhamdulillah suatu kebahagiaan yang tak terbilang bisa menjalankan ibadah Ramadhan dengan kebersamaan. Suasana keluarga berubah indah cerah ceria penuh warna, indah seperti warna pelangi yang membelah langit merah. Hanya sujud syukur yang bisa kupersembahkan kepada Illahi.

Gema Takbir menggema diangkasa makin genaplah kebahagiaan ini dan puncak kebahagiaanku ada di hari nan fitri. Seusai shalat ied aku sungkem pada kedua orang tua kulihat ada sekulum senyum dari bibir ayah, aku tidak tahu apa artinya tapi seperti ada rona kebahagiaan yang ingin diberikan kepadaku. Sementara dari mata ibuku kulihat ada bulir-bulir bening yang mengalir di pipinya bersama mengalirnya doa yang dipanjatkan untukku. Aku tak kuasa  membedung derasnya air mata ketika cium sayang mendarat dikeningku serta memelukku penuh kasih. Ada suara lirih yang terdengar ditelingaku "Hari ini Ibu bahagia anakku". Alhamdulillah Ya Robb.






    

Artikel Media Macarita Sejenis

Categories: ,

41 comments:

"Setelah dibaca silakan berikan komentar sesuai isi posting. Karena isi posting sopan maka diharap komentarnya juga sopan dan tidak menulis komentar spam yang tidak ada hubungannya dengan posting. Maaf jika komentar OOT terpaksa kami hapus."

  1. Wow.. Terenyuh sekali. Benar-benar terharu. Jadi teringat kisah seorang teman saya yang seorang mualalaf yang berbeda keyakinan dengan ayahnya, tetapi ibunya adalah muslim. dan mereka sudah bercerai..

    Cerita yang Luar biasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu cerita wktu msh unyu2 dulu mbak..
      terimakasih atas apresiasinya

      Delete
  2. Sudah sering membaca kisah mas Insan dalam menggapai hidayah dan perjalanannya, tapi selalu saja menangkap hal baru dalam tiap tulisannya.
    Mendoakan kebaikan buat keluarga mas Insan. Barakallah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah terima kasih atas doanya dan terimakasih sdh mau mengajari menulis

      Delete
  3. terharu..tidak ada kata2 yang bisa ku ucapkan..perjalanan menggapai hidayah mas insan begitu banyak hikmah dan pelajaran :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih Ya Tia, saya juga byk terinspirasi dari perjalanmu

      Delete
  4. Senengnya mas bisa mengajak keluarga ikut hijrah menuju agama Allah.. Hebat Drimu mas... Kl gtu jd aku lempar lemper bnran dehh hehehe....
    Sesama peserta kontes slg mendoakan ya :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang hebat bukan saya mbak.., tapi sandaran saya yg maha membolak-balikkan hati manusia..

      saya tangkap lempernya.

      Delete
  5. kenikmatan kesuksesan yang hakiki adalah hidayah yang diberikan Alloh sehingga kita bisa merasakan manis danlezatnya iman.
    *pelukhangat*

    saudaramu

    ReplyDelete
    Replies
    1. sangat..sangat setuju...
      salam hangat..

      Delete
  6. Sangat menyentuh...perjalanan yg berliku terkadang malah menjadikannya penuh hikmah ya mas, berbeda dengan perjalanan yg datar dan biasa2 saja..semoga kita istiqomah dlm menapaki jalan-NYA..seneng rasanya membaca kisah yg penuh inspiratif spt ini..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ibarat pepatah, pengemudi akan lebih pandai bila mengemudi dijalan yg berbelok2

      Delete
  7. MasyaAllah suatu perjalanan hidup yang mengharukan. Semoga selalu istoqomah di jalan Allah, ya.. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. doa dan restunya semoga bisa istiqomah ya mbak Santi

      Delete
  8. Perjalanan hidup terkadang memang sulit untuk dijalani Om.
    Namun kita harus tetap ingat pada-Nya, karena dialah yang memberinya dan akan menghilangkannya, juga mengganjar atas apa yang diujikannya kepada setiap manusia.

    Hingga dari pada itu, muncullah sifat dalam Islam, yaitu Sabar.

    Terimakasih atas ceritanya Om.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas, jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu

      Delete
  9. Selalu ada rasa haru ketika membaca kisah seperti ini, juga membuat Saya semakin bersyukur karena sedari kecil bisa menjalani ibadah puasa dan ibadah lain bersama keluarga tanpa hambatan.

    Terima kasih untuk ceritanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah ya mbak...
      tai semua ada sensasinya.. terimakasih kunjungannya

      Delete
  10. Subhanalloh..terkadang saya suka "iri" dengan teman2 muallaf *eh wajar kan ya kang?...... aniwei sukses dengan GA nya..n maaf baru sempet kunjungan balik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. malah kadang saya yg suka ngiri dengan kematagan hidup kang Todi..., saling mendoakan dan mengingatkan ya kang

      Delete
  11. huhf,terharu banget baca ini..pengen nangis :(
    subhanallah,baarakallah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih mbak Hanna...
      saya Mengaminkan doanya

      Delete
  12. Replies
    1. seperti saya yang merinding baca tulisannya mbak Rini

      Delete
  13. Subhanallah.. Semoga Allah selalu melindungi mas dan keluarga. kisah yang menyejukkan sekali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin...
      Terimakasih adik Ayu atas apresiasinya...

      Delete
  14. Kalo baca tulisan Mas Insan selalu mak Jleb !!!

    Semoga menang tulisanya menyentuh banget ! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. apalagi kalau baca tulisan mbak Lies...

      makasih ya mbak

      Delete
  15. Ikut terharu sob, semoga apa yangtelah kamu lakukan akan selalu mendapatkan yang terbaik, meski menurutmu tidak. Engkau bisa menjadi penolong keluargamu kelak. Meski di dunia ini awalnya pahit.
    Ayah ibumu pasti mulai menghayati apa artinya islam, hidup, keluarga saat kau sungkem di hadapan orang tua.
    Itulah kebesaran islam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah terimakasih atasa apresiasinya
      dan terimakasih kunjungannya

      Delete
  16. barokalloh rizki iman islam adalah yang terbesar dalam hidup

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mbak, demikian yang saya rasakan...

      Delete
  17. kisah yang mengharukan sekali.. semoga sekeluarga selalu istiqomah dalam dienul Islam :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin...
      Terimakasih doaanya, doa serupa saya hturkan untuk mbak Diah sekeluarga

      Delete
  18. Terenyuh bacanya mas, terimakasih partisipasinya ya. Semoga mas sekeluarga selalu dalam lindunganNya. Amin amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah sdh diterima..
      terimakasih doanya, doa serupa untuk mbak Karryna

      Delete
  19. Pasti bahagia banget ya Mas
    Perjunangan yang luar biasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yups..., bahagia yg tidak bisa diungkapkan..

      Delete
    2. Mas, kok ga bisa komen di kotak komen baru ya, mas? Numpang disini aja deh komennya.

      Sebuah artikel yang sangat menyentuh hati, memburatkan bahagia, menyiratkan pembelajaran bagi kita semua. Nice post, Mas Insan, pantesan menang, artikelnya ciamik, spt biasanya. :) Slmt yaaa.

      Delete
  20. Selamat ya mas Insan, tulisannya menang. Sepertinya tulisan2 GA yang lain juga akan menang deh. Yang ditulis dan cara menyampaikannya memang makin keren aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih mbak...
      Aamiin..., ini kan karena mbak Niken yg ngajarin

      Delete