Sunday, January 6, 2013

Giveaway Senangnya hatiku: Menjadi Matahari



Selalu menyebarkan cahayanya

Bismillahirahmanirrahim

Berbicara masalah rasa senang maka erat kaitannya dengan nikmat, dan nikmat itu sendiri akan terasa nikmat bila disertai rasa syukur. Jika harus memilih nikmat mana yang paling nikmat tentunya sangat sulit menentukan, karena begitu banyak nikmat yang telah kudapatkan. Jika harus dihitung-hitung maka banyaknya pasir dipantai tidak sebanding dengan banyaknya nikmat yang kudapatkan dari-Nya. Selain daripada itu setiap nikmat selalu ada sensasinya masing-masing. Baik itu nikmat sehat, nikmat ilmu, nikmat iman serta nikmat Islam.

Baiklah aku tidak akan membahas tentang rasa senang, nikmat ataupun syukur. Tetapi sesuai dengan tema GA yang diusung oleh Pak Ust. Akhmad Muhaimin Azzet adalah "Senangnya Hatiku" maka mau tidak mau harus memilih satu rasa yang membuatku merasa senang bahkan bukan sekedar rasa senang tetapi sebuah rasa bahagia yang harus disyukuri.

Jika ditanya moment apa yang membuatku senang bahkan sangat bahagia? Maka dengan tegas aku jawab "Saat meninggalnya ayahku"  Loh kok begitu..? 
Mungkin ada yang mengatakan aku anak durhaka yang tidak tahu diri !,  Hmmm.!!
Atau mungkin ada yang bertanya-tanya apakah senang karena dapat warisan berlimpah?. "Bukan, ayahku bukan konglomerat yang meninggalkan harta banyak"
Atau karena terbebas dari sikap killer sang ayah? "Bukan juga, karena ayahku termasuk type penyabar, penyayang kendati sangat disiplin"
Lantas apa?. Okelah daripada bertanya-tanya yang tidak jelas mari melanjutkan membacanya.

Memang terasa sulit untuk mengatakan apakah itu suatu kebahagiaan atau bukan. Secara nalar manusia normal memang teramat menyakitkan dengan kepergian figur seorang ayah yang kusayangi dan kuhormati. Tapi disisi lain aku merasa bahagia ketika melihat dengan mata kepala sendiri ayah meninggal dengan (Insya Allah) husnul khatimah. Dari bibirnya disematkan seuntai senyum dibarengi dengan bacaan La ilaaha illallah menjelang hembusan nafas terakhir.  Alhamdulillah

Demikian kehidupan ada harga yang harus dibayar, Ada pengorbanan yang harus diberikan.  Kita tidak pernah tahu apa rahasia dibalik itu semua. Yang baik bagi hamba belum tentu baik bagi Allah sedangkan yang baik bagi Allah pasti baik bagi hambanya. Itulah kenyataan yang kuhadapi, Aku tersadar bahwa kesedihan yang kuterima tidak sebanding dengan kenikmatan yang diberikan Allah berupa kematian yang indah dan husnul khatimah.

Betapa aku senang dan bangga terhadap ayah jika meruntut dari sejarah panjangnya. Ayah dulu orang yang paling menentang keislamanku hingga akhirnya mengikuti jejakku bahkan berbalik mendukung dengan sepenuh jiwa dan raga. Itu terbukti dengan wasiat yang diberikan dalam bentuk catatan kecil dikertas yang ditulisnya sendiri disaat-saat terakhirnya "engkau telah memilihkan Islam sebagai keyakinan kita bersama, sampaikan apa yang harus disampaikan kepada orang lain, agar makin banyak yang bisa mengambil manfaatnya" (selengkapnya disini)

Itulah sebuah titik balik bagiku untuk tetap belajar dan berusaha menyampaikan kebaikan dan kebenaran baik secara langsung atau melalui tulisan yang aku kemas secara sederhana diblog Media Robbani. Allah punya cara sendiri untuk menegurku melalui perantara wasiat itu aku kembali bangkit dari keterpurukan. Sepeninggalan Ayah telah membukakan mata hatiku untuk belajar pada filosofi sang Matahari "Tidak pernah bosan menyebarkan cahayanya untuk menerangi kegelapan"  Insya Allah aku akan menjadi matahari yang tidak akan bosan menyebarkan cahaya kebaikan pada kegelapan dunia.  Aamiin

Alhamdulillahirabbilalamin 

  
 

Artikel Media Macarita Sejenis

Categories: , ,

26 comments:

"Setelah dibaca silakan berikan komentar sesuai isi posting. Karena isi posting sopan maka diharap komentarnya juga sopan dan tidak menulis komentar spam yang tidak ada hubungannya dengan posting. Maaf jika komentar OOT terpaksa kami hapus."

  1. Semoga ayahanda mendapat tempat yang baik disisi Allah. Diterima segala amal perbuatan dan pertobatannya.

    Sebagai anak, menyaksikan kematian dr ayahanda dgn keadaan yang indah itu tentu saja membawa kebahagiaan sendiri. Sekalipun itu berarti beliau pergi meninggalkan kita utk selamanya. Tapi dgn keimanan yg meyakini bahwa semua yg kita miliki adalah titipan, tentunya hati lbh ikhlas menerima saat titipan kita diambil oleh yg empunya dgn cara yang indah.

    Semoga sukses dgn GAnya... #bakal panen hadiah nih kayaknya... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin..
      Terimakasih untuk doa yang indah.
      Betul sekali mbak, memang tidak mudah mengikhlaskan hati. tapi jika menyadari bahwa setiap manusia ibarat berdiri disebuah antrian maka mau tidak mau harus mengikhlaskannya..

      komentarnya bagus sekali mbak... suka banget

      Delete
  2. Ya Allah, mendadak merinding.....
    semoga Beliau mendapat tempat terbaik disisinya :)

    ReplyDelete
  3. Semoga anda sekeluarga selalu diberi kekuatan untuk melanjutkan wasiat dari Bapak..

    sukses mas lombanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin...
      terimakasih untuk doanya.. dan sukses juga buat mas

      Delete
  4. Semoga bisa menjadi matahari :)
    salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe...iya.. semoga..
      salam kenal juga..

      Delete
  5. Semoga diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menjalankan warisan dari ayahanda.......

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah...., itu sebuah nikmat yang luar biasa yang harus disyukuri. Saat2 terakhir nafas dalam raga ini masih dalam tauhid yang bercahaya. Sebuah kepergian ke rumah abadi yang husnul khatimah. Berdesiran hati saya membacanya, Pak. Semoga diri yang faqir ini juga mendapatkan karuania-Nya yang senantiasa menyebut dan bersama-Nya. Semoga demikian juga dengan Pak Budi, keluarga, juga saudara tercinta. Allaahumma aamiin.

    Dengan bergetar maka dengan resmi saya nyatakan artikel tersebut telah TERDAFTAR. Makasih banyak ya, Pak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Subhanallah...
      Komennya tidak kalah bagusnya dan cukup menggtarkan hati
      saya meng-aamiin-kan doa dan harapannya Pak..

      Terimakasih

      Delete
  7. aiih... aku terharu membaca tulisan ini... Semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisiNYA untuk almarhum ayah ya... Menjadi matahari.. sebuah niat tulus yg membanggakan.. semoga terwujud selalu, mas... dan semoga berjaya di GA Bang Azzet ini ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih mbak..
      sungguh kebanggaan kedatangan mbak Mechta
      saya mengaamiinkan doanya.

      Delete
  8. Subhanallah... Bersyukurlah kita2 yang mendapat nikmat Islam. Semoga kita pun kelak bisa tetap menyematkan tauhid dalam hati, hingga ajal menjemput nanti...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin...
      Saya berharap keluarga kaka' Akin demikian adanya

      Delete
  9. sosok AYAH adalah salah satu sosok yang hadir dalam kehidupan setiap insan dan selalu mempunyai kenangan indah tentangnya,
    semoga beliau tenang di alam sana dalam penantian hingga hari akhir,
    btw-semoga sukses ya kontesnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin...
      terimakasih Mas Hari...
      semoga mas Hari dan keluarga akan lebih baik lagi

      Delete
  10. insya Allah pak...
    semoga selalu menjadi matahari "syam" yang sesalu menyinari....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah terimakasih...
      mohon doa dan suportnya..

      Delete
  11. bahkan ketika malam pun matahari tetap bersinar :)

    ReplyDelete
  12. Subhanalloh...terasa sejuk hatiku membaca tulisan panjenengan. Terimakasih pak. salam kenal...

    ReplyDelete
  13. semoga senantiasa menjadi matahari yang menerangi..

    salam kenal

    ReplyDelete
  14. salam kenal,
    kutunggu kunjungan baliknya

    ReplyDelete