Friday, January 4, 2013

Pandangan Pertama: Pada Wajah Jelita


Bismillahirahmanirahiim

Cakrawala jingga membias menelan langit sore hari. Menyiratkan keteduhan pada jiwa nan gersang. Entah mengapa sore ini aku ingin menikmatinya sang senjakala. Mungkin karena aku sedang merindukan keteduhan, merindukan kedamaian dan merindukan ketenangan bathin.  Tiba-tiba aku dikejutkan oleh seraut wajah jelita yang muncul dari balik awan dengan memancarkan cahaya putih bersih. Keterkejutanku berubah ketakjuban ketika wajah jelita itu perlahan tapi pasti melangkah mendekatku. Melempar senyuman paling manis yang belum pernah aku lihat sebelumnya. 

Senyum itu sungguh mengusikku seakan menghantam deras pada jiwaku yang angkuh, menancap kuat dalam memoriku. Aku bagaikan seorang pria yang sedang dimabuk asmara, semua terjadi diluar nalarku. Sebuah pandangan pertama yang menakjubkan dan kesan pertama yang mempesona.

gambar dari sini

Haripun berganti, aku mencoba melupakan peristiwa kemarin. Tapi semakin kucoba melupakan semakin melekat kuat ingatanku pada raut wajahnya apalagi senyumnya. Kumelawan dengan segenap kesombongan. Tidak...!! Aku tidak ingin jatuh cinta dengannya. Tak urung aku tetap kalah, menyerah dan pasrah. Teduhnya tatapannya telah memporak-porandakan benteng hatiku. Tapi anehnya, aku merasa bahagia, seolah ada harapan baru yang kurasa dari denyut nadiku. Harus kuakui aku telah jatuh cinta padanya. Bagiku dia lebih jelita dari wanita manapun bahkan bidadari surgawipun tidak mampu menandingi kejelitaannya.

Tertawan hati untuk mendekati bahkan berkenalan dengannya. Makin dekat aku makin mengakui keelokan wajahnya keluhuran pekertinya dan keindahan tutur-sapanya. Mataku terkesiap saat membaca kata demi kata tersusun rapi di buku sucinya yang teramat sempurna. Hatiku berbisik dia adalah yang kucari selama ini, aku merasa bangga menjadi bagian dari dirinya. Aku bersumpah tidak ada satupun yang bisa menghalangi cintaku. Karena ini cinta yang sempurna tanpa rekayasa. Kupastikan hidup dan matiku akan kupersembahkan untuk dia.

Hidup tidak selamanya sesuai rencana. Sudah kuduga orang tuaku tidak akan merestui cintaku bahkan tidak akan membiarkan cinta makin merekah ditaman hatiku. Tapi cintaku bagaikan ombak dilautan lepas, tidak terhalang walau batu karang menghadang. Kata orang cinta memang butuh perjuangan dan pengorbanan, jika aku harus berjuang dan berkorban demi dia maka nyawapun kupertaruhkan.

Maafkan aku Ayah, maafkan aku ibu, anakmu sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan sendiri. Ada cinta suci menggelayut dihati yang tak mampu kuingkari. Jangan paksakan aku dengan pilihanmu. Yakinlah bahwa dia adalah yang terbaik untukku. Ketahuilah wahai ayah dan ibu, bersamanya aku merasa damai bersamanya aku merasa nyaman dan tentram, dia sangat istimewa dihatiku. 

Dengan limpahan cinta kupinang dia dengan dua kalimat syahadat. Aku berjanji akan menjaga dia dengan sepenuh hati, membela dia sepenuh jiwa. Alhamdulillah makin hari aku merasa bahagia, kehidupanpun mulai tertata walau tidak bisa dipungkiri masih ada rasa dilema tanpa restu orang tua. Tapi aku lali-laki harus tetap komitment dengan pilihan hidup. Hanya doa yang ku haturkan kepada Illahi Robbi. Semoga orang tua mau menerima dan mencintai dia ikhlas apa adanya.

Setelah mengenal dekat dia, aku merajut kemesraan bersama. Jatuh bangun adalah hal yang biasa, keterasingan dan sikap sinis sudah menjadi keseharianku. Tak apalah semua kuanggap sebagai kawah candradimuka untuk pendewasaan diri sekaligus sebagai pembuktian kekuatan cintaku pada dia. Aku percaya bila datang masanya semua akan berjalan sempurna.

Allah Ta'ala adalah sutradara yang sempurna yang bisa membolak-balikkan hati manusia, yang bisa merubah peran antagonis menjadi protagonis, yang bisa menjadikan rasa benci menjadi sayang. Kuasanya tidak terbatas meliputi langit dan bumi dan dengan kuasa-Nya kedua orang tua memberikan restu antara aku dengan dia bahkan akhirnya merekapun ikut mencintai dia dan menjadi muslim hingga ajal menjemput. Subhanallah ini sebuah kado istimewa dihari ulang tahunku.

"Sahabat semua, tahukah kalian siapakah DIA yang mampu meruntuhkan hatiku..? DIA adalah ISLAM Agama yang Haq. ISLAM yang mempunyai wajah jelita dan senyuman manis sebagai symbol keselamatan, kebenaran, kesempurnaan, kedamaian, kasih sayang serta keindahan. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama dan aku bangga menjadi muslim". 

Alhamdulillahirabbilalamin



Artikel Media Macarita Sejenis

Categories: ,

45 comments:

"Setelah dibaca silakan berikan komentar sesuai isi posting. Karena isi posting sopan maka diharap komentarnya juga sopan dan tidak menulis komentar spam yang tidak ada hubungannya dengan posting. Maaf jika komentar OOT terpaksa kami hapus."

  1. Subhanallah walhamdulillah....
    Sebuah pandangan pertama yang luar biasa, Pak
    tiga tahun sudah, betapa bahagianya
    dan tidak hanya di dunia, tapi juga bahagia di akhirat... aamiin....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah...
      semata karena kemurahah Allah saja, yang mempertemukan dengan Dienullah yang Haq..

      Delete

  2. اَللّهُ أَكْبَرُ
    Sungguh jatuh cinta yang amat indah sekali mas Budhi... Amat bersyukur mas Budhi menemukan cinta itu. Bahkan istiqomah hingga akhir hayat kelak.

    Indah mas... Amat indah jatuh cinta pandangan pertama pada Islam.

    اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah mbak...
      Pandangan pertama yang mengesankan

      mohon doanya ya mbak agar bisa istiqomah

      Delete
  3. Idaaaahh... Menangin tulisan ini yaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahahahahaha...
      juri tidak bisa diganggu gugat..

      Delete
    2. aku juga vote tulisan ini, bagus mas. Mas Insan yang baru saja mengenal DIA sudah begitu fasih dan paham. Malu saya harus banyak belajar lagi

      Delete
  4. Wah, keren tulisannya..
    bagus, gak terduga juga ..
    aduh sulit ngasih komen nih pak saking bagusnya ,, #suwer ^^v
    Semoga berjaya dalam lombanya ;)

    Salam hangat dari Jember :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah.. terimakasih mas Adam
      nah diatas sdh komen yg tdk kalah bagusnya

      Salam dari Surabaya

      Delete
  5. Subhanallah...
    Yaaa muqollibal quluub tsabbit quluubana aladdiiinik wataa atiq aminnn...

    Salam hangat
    Zwan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Robbana la tuzigh quluubana ba’da idz hadaitana wa hablana min ladunka rohmah , innaka Antal Wahaab.

      Delete
  6. Subhanallah..sampe merinding bacanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh segitunya Esti...
      terimakasih kunjungannya

      Delete
  7. terharu, ada rasa bergetar membaca tulisan ini. apakah bisa dikatakan hidayah sewaktu mengenalnya pertama kali?

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih mbak Lidya...
      entahlah mbak, semoga aja itu sebuah hidayah

      Delete
  8. wah bang insan robani emang so suit dah sama si mbak..... luar biasa romantisnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. jiaeeh... si mbaknya cantik sangat jelita ya dengan senyum tersungging

      Delete
  9. Alhamdulillah.... baru tahu ceritanya spt ini, tetep istiqomah mas...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih mbak, mohon doanya agar bisa istiqomah

      Delete
  10. Subhanalloh.. Saya yang muslim sejak kecil malah sering goyah. Jadi iri dengan para muallaf..

    Ya Muqollibul Quluub.. Tsabbit quluubinaa 'aladdinnik..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iri atas kebaikan insya Alloh dibolehkan kok...
      jangan mau kalah dan selalu berlomba2 dlm kebaikan

      Delete
  11. bikin bulu kuduk merinding, mas insan. :)

    ReplyDelete
  12. Saya menikmati banget setiap kata demi kata dalam tulisan ini... :D
    Keren banget bang Insan... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wau ada Glen...
      terimakasih Glen, tapi tetep belom bisa sekeren tulisanmu ya

      Delete
  13. Tulisan yang bagus belum tentu menang ya, maaf-maaf aja. Enakan menangin postinganku aja ya Dah, tar tak kirimi buah kelapa dari Sukabumi deh hahaha....


    (komen ga jelas :D)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah cuman buah kelapa, saya malah buah, pohon dan ladang kelapa.. qiqiqi

      Delete
  14. Semakin dekat, semakin terasa dalam sbuah tirai terungkap bahwa logika keimanan akan sejajar dengan logika Tuhan tuk selalu dalam keberkahan.

    Sukses selalu
    Salam Wisata

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selalu suka dengan komen mas Indra...
      terimakasih mas...

      Delete
  15. Subhanallah. . .
    Trenyuh atiku, Om. Saya benar2 baru tahu.

    Sebelum sampai paragraf akhir, saya kira "dia" adalah mamanya Devon. 20 jariku untuk om insan, ditambah jari dari orangtuaku, Om. ;)

    Terimakasih sudah ikut meramaikan syukuran GA Langkah Catatnku, Om. ^_*

    ReplyDelete
    Replies
    1. jadi tolong bisikin jurinya ya Idah... supaya tulisan ini menang...
      hahaha.... maksa...

      Delete
    2. baru tahu ya... kan kita baru kenalan tadi... qiqiqi...
      tapi jarinya jangan buat dadah..dadah ya...

      jangan dengerin yang bisik-bisik ya Idah..

      Delete
    3. wah wah sohibul hajat dah turun komen neh, bahaya! Saya rela deh kalo entri ini menang. Tapi bukan karena desakan juragan jengkie ya Dah, tapi karena memang layak dan bagus sehingga patut menjadi jawara.

      (Sekali lagi saya tak uncluk-uncluk pulang---nyeruput es kelapa muda di belakang IPB)

      Es dawet jolalai yo Dah...:)

      Delete
  16. waah... kk @Insan.. kenapa ya liyan ko jadi_ dag dig dug saat membaca ini... jangan jangan... liyan jatuh cinta untuk kedua kalinya pada *dia hehe...

    subhanalloh... luar biasa, sulit diungkapkan oleh sejuta kata sekalipun. hanya wahyuNya ini yang tergambar untuk kita yang telah mendapatkan Huda_Nya, Insya Allah...

    "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)."

    ReplyDelete
    Replies
    1. jatuh cinta ske seribu kali juga tidak apa kok Liyan...
      waduh jadi tersipu dengan koment liyan yang shalihah..
      makasih udah setia berkunjung

      Delete
  17. Datang, lirik judul, simak isinya, dan kemudian hanya bisa terpaku menikmati setiap aliran diksinya. Subhanallah, indah sekali ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah..., akhirnya mau menjejakkan kaki disini juga
      selamat datang kembali...

      Delete
  18. terhanyut mencari inti dr tulisan , sapa dia yng mampu membludakkan mata pak de;, subhanallah, :)

    goodluck pak de' GAnya...

    ReplyDelete
  19. Semoga Allah Swt memberkahi. Amin
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, terimakasih banyak Pakdhe
      salam juga dari Surabaya

      Delete
  20. Subhanallah,,
    Semoga istiqomah,
    Semoga kita semua semakin mencintai dia,,
    :)
    Salam kenal dari Batam,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus...harus mencintai dia 1000% No Exuse
      terimakasih Dian..

      Salam dari Surabaya

      Delete