Thursday, August 1, 2013

Generasi Pejuang Yang Bertakwa

Terlalu sulit untuk menterjemahkan langkah-langkah terbaik yang pernah kulakukan bahkan secara materi bisa dibilang nyaris tidak ada. tapi satu hal yang yang kuyakini bahwa setiap jengkal langkah dan setiap desahan nafas adalah sebuah perjuangan untuk selalu membuat perubahan menuju titik kebaikan. Mungkin sahabat semua sependapat jika siapapun yang berakal sehat akan selalu berusaha menjadi yang terbaik, entah itu untuk diri sendiri untuk keluarga maupun untuk lingkungan. Begitu pula yang terjadi pada diriku yang selalu berusaha yang terbaik khususnya dalam hal pendidikan akhlak bagi anak.

mendorong anak menjadi manusia mandiri l sumber gambar
Sebagai orang tua sangat wajar kadang terbesit kecemasan terhadap masa depan anak mengingat perkembangan jaman dan kemajuan tehnologi semakin pesat dan sulit dikendalikan. Suatu yang mustahil bila kita menghentikan laju perkembangan jaman, namun yang bisa kita lakukan adalah memberikan keseimbangan antara perkembangan jaman dengan nilai-nilai agama, antara kecerdasan dan akhlak yang baik. Adalah tugas orang tua untuk membimbing, mengarahkan dan mensuport agar anak-anak tumbuh menjadi manusia cerdas, mandiri yang didalamnya tetap terkandung nilai-nilai religius.

Mendidik Anak ibarat berjalan diatas titian panjang yang membutuhkan konsentrasi dan keseriusan karena bila terpeleset jatuh maka rusaklah generasi idaman masa depan. Tentunya kita semua tidak menginginkan anak-anak kita kelak menjelma menjadi Firaun maupun Hamman diabad modern, yaitu menjadi pemimpin dan cendekiawan yang melupakan eksistensi nilai ketuhanan, ataupun menjadi generasi sekuler yang mengutamakan dunia dibanding akhiratnya.

Dari alasan itu langkah awal yang aku pilih adalah memilihkan Devon untuk masuk di sekolah Full Day Islam terpadu (FDIT). Mohon maaf bukannya hendak membandingkan FDIT lebih baik dari media pendidikan lain. Masing-masing tetap punya nilai plus dan minusnya namun aku berasumsi (berdasarkan pendapat pribadi) di sekolah FDIT intensitas pelajaran agama lebih baik secara kwantitas mungkin juga secara kwalitas, mengingat waktu belajarnya juga lebih banyak. Itu sangat dibutuhkan bagi perkembangan anak karena untuk anak-anak butuh 70 - 80% asupan edukasi tentang akhlak.

Pada awal memasukkan Devon ke KBIT (Kelompok Bermain Islam Terpadu) tidaklah berjalan mulus ada saling silang pendapat di keluarga bahkan ada yang beranggapan jangan sekolah di KBIT karena jika tidak kuat anak-anak akan rentan mengalami stress. Ironisnya mamanya Devon yang tadinya mantab memasukkan ke KBIT perlahan mulai goyah akibat gesekan keluarga. Hah kenapa stress jika cara belajarnya baik dan benar, logikaku  sederhana saja bahwa setiap guru tentu sudah dibekali ilmu tentang metode belajar pada setiap tingkatan.

Anak akan stress jika diasuh oleh guru yang stress pula. Guru yang stress maksudku adalah guru yang tidak bisa membedakan penerapan metode belajar atas anak didiknya berdasarkan fase usia dan tingkatan. Karena metode belajar di KBIT lebih menekankan pada proses belajar sambil bermain yang dikemas dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Alhamdulillah akhirnya semua berjalan lancar tanpa aral apapun sampai lulus KBIT, TKIT dan SDIT.

Satu langkah yang aku ambil adalah sebuah obsesi untuk menciptakan generasi masa depan yang jujur bersih dan bertanggung jawab agar nantinya mampu memegang estafet kepemimpinan dari generasi sekarang dengan gilang-gemilang. Jangan berharap banyak bisa membasmi virus-virus kecurangan pada kondisi sekarang, karena semakin banyak hati yang sakit sudah pada titik stadium empat, darah-darah kotor sudah mengalir deras di pembuluh darah para perusak negeri ini.

Filter berupa nasehat dan tauziahpun tidak lagi mampu menyembuhkannya mungkin hanya bila maut menjemput bisa menghentikan kecurangannya. Maka mengapa kita tidak berpikir untuk memotong generasi yang sudah terlanjur bubrah dengan cara mempersiapkan putra-putri kita menjadi generasi emas yang dibalut dengan akhlakul karimah yang mengedepankan nilai kejujuran dan rasa tawadhu kepada Allah Sang Maha Pencipta.

menjadi pejuang yang bertakwa
Aku membayangkan jika masing-masing diantara kita bersungguh-sungguh menanamkan pendidikan agama yang baik dan benar pada putra-putri kita maka insya Allah masa keemasan di negeri ini tinggal menunggu waktu rasanya bukan sesuatu yang mustahil Indonesia negara yang kaya gemah lipah loh jinawi akan segera terwujud serta mampu mengentaskan kemiskinan yang grafiknya makin lama makin meningkat. Dengan generasi emas Indonesia akan kembali berjaya bahkan bisa menjadi mercusuar yang diperhitungkan dunia.

Maka di momen bertepatan dengan bulan Ramadhan dan menjelang proklamasi Indonesia mari kita merendahkan hati memohon kepada Robb untuk diberi kekuatan agar tidak pernah merasa lelah mendorong putra-putri kita menjadi generasi pejuang yang bertakwa. Generasi pembangun bangsa dan pembangun negeri ini menjadi lebih baik lagi. Mungkin inilah usaha terbaik yang sudah dan akan terus kulakukan selama hayat masih dikandung badan.


     give_away
Tulisan ini diikutsertakan dalam Semut Pelari Give Away Time


Artikel Media Macarita Sejenis

Categories:

40 comments:

"Setelah dibaca silakan berikan komentar sesuai isi posting. Karena isi posting sopan maka diharap komentarnya juga sopan dan tidak menulis komentar spam yang tidak ada hubungannya dengan posting. Maaf jika komentar OOT terpaksa kami hapus."

  1. Bapak polah anak kepradah sam. Salah anak kita kelak itu bukan mutlak karena mereka, tapi bisa jadi ada yang keliru dalam didikan kita.

    Wong pinter emang banyak di Indonesia, tapi wong jujur dan ikhlas berkarya kayaknya semakin langka saja.

    Sukses GA-ne Pa'e Devon.. Merdeka !

    ReplyDelete
    Replies
    1. sangat setuju sam, akeh wong pinter hanya untuk minteri wong liyo..

      Merdeka..!!

      Delete
  2. Tentang keteguhan dua orang tua yang selalu ingin yang terbaik untuk anak laki-lakinya.

    Postingan ini sekaligus merangkap bab tentang sebagaimana sosok pemimpin itu berlaku.

    Kejujuran, kedisiplinan, juga tanggung jawab.

    Semoga dengan pendidikan yang dijalani keponakan saya Devon sekarang, nanatinya akan membuat sang orang tua bangga.

    Hormat tegap untuk Devon, dari Om nya yang ada di Jember.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, berharap Omnya dari Jember juga ikutmerasakan kebanggaannya ya..

      Terimakasih

      Delete
  3. sukses GA nya yah,,,

    kelak si jagoan akan mjdi generasi bangsa yg mampu membawa perubahan yg baik..aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih bu Guru..
      Saya Aamiinkan doanya

      Delete
  4. Semoga menjadi GENERASI IPTEK DAN IMTAQ
    Melek ilmu pengetahuan teknologi dan juga Iman dan Taqwa pastinya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin...
      biar pinter kaya mas Taufiq ya...

      Delete
  5. sayapun sedikit banyak punya cita2 yg sama spt kamg budhi thd masa depan anak2..ini msh hunting tempat yg tepat..saya sptnya hrus blajar bnyak sama panjenengan kang :) tp emang ujian terberat adalah rasa sayang yg sesaat thd anak bisa mengaburkan tujuan jangka panjaaaaang yg pngn dicapai buat anak2 y kang...

    ReplyDelete
    Replies
    1. byeuh belajar sama saya..??
      ini koment ngajak berantem sepertinya...
      masa kang Todi belajar sama saya apa kata dunia..??

      Delete
  6. ooh ternyata bukan hanya saya yang mendapat komplain karena memasukkan anak ke SDIT :)

    ReplyDelete
  7. Terima Kasih Partisipasinya di Semut Pelari Give Away Time :)

    ReplyDelete
  8. jadi inget kalimat yang sering diajarkan di pesantren dulu, al ummu madrasatul ula..bahwa pendidikan itu bermula di rumah. Dengan didikan yang bagus dari orangtua insya Allah dampaknya akan bagus pula ke anak, mungkin kalo sekolah di SDIT di jawa masih tanda kutip (silahkan di analisa sendiri mas, dari segi pemikiran orang2 maksud saya hehe). Tapi setelah dua tahun di batam, saya baru tahu bahwa sekolah SDIT itu bagus (karena kebanyakan di batam sekolah national plus/internationallah). Bagus dibidang agama dan umum (sepupu saya 4 di SDIT semua), seimbanglah. Diimbangi dengan pola asuh orangtua yang bagus dan memberi contoh yang positif jadi sampai saat ini penilaian saya masih tetap bagus...
    sukses buat Devon... ^^
    *maaph,panjang...xixixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah di SDIT keseimbangan antara ilmu agama dan ilmu sifatnya umum sangat berimbang, bahkan untuk level sederajad SDIT tempat dvon mampu menumbangkan dominasi sekolah2 non muslim dlm hal prestasi, apalagi ditambah pengetahuan agama yg yang cukup baik, karena targetnya lulusan SDIT harus sdh bisa baca tulis AL quran

      Delete
  9. Semoga sukses di GA nya, dan jadi yang terbaik

    ReplyDelete
  10. Jadi inget kata2ny Umar bin Khatabb ra.. Hak anak trhadap anak ada 3: dipilihkan ibu yg soleha, dberi nama yg baik &diajarkn agama. Kl menengok 3 hak tsb,bisa jd rusakny moral negri ini krna ada yg tdk trpenuhi dr hak2 tsb.
    Memilih sekolah islam trpadu adalah salh satu solusi, namun pilihn tsb tdk bs menjangkau smw kalangan coz biaya yg tdk murah yg sulit dtanggung oleh saudara2 qt menengah kbawah. Mungkn itulah hikmah sabda Sang Nabi yg menyebutkn ibu adalah madrasah pertama&ayah sbgai kepala sekolahny,tidak perlu biaya mahal, controling bisa lbh sering dan hasil insyaALLOH lbh memuaskn dan brkah.sayangny bnyak ortu yg abai dan lbh memilih sekolah. Padahal sejatiny Pendidikn&penanaman akhlak&agama adalah kwajiban ortu..
    Tulisan keren, kefitrahan diri berbalut smangat nasionalisme. Sukses u GA ny mas,smg menang

    ReplyDelete
    Replies
    1. itulah dilema yang sering kita hadapi, tapi sebenarnya di sekolahnya Devon dulu juga mengakomodasi bagi siswa yg punya prestasi belajar ataupun keluarga tidak mampu.

      Delete
  11. Peran orang tua untuk kemajuan anak2 memang menjadi prioritas.
    Gagah sekaliii. .
    Semoga menjadi anak yang sholeh ya. . . :)

    Sukses GAnya, Om. . .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamin...
      Terimakasih doanya kakak Idah
      salam dari Devon

      Delete
  12. Semua oran tua tentu berharap yang terbaik untuk anak2nya. Sukses untuk GA nya yaah.. semoga menang aamiin

    ReplyDelete
  13. setuju, Mas. Yang utama itu pola belajar. Jd yg tugasnya berat sebetulnya orang tua krn hrs menemukan pola belajar yg tepat bagi anak supaya belajar mereka jd lebih ringan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak...
      artinya orang tua juga terus belajar ya mbak

      Delete
  14. Qu'anfusakum wa'ahlikum naro.
    Kita mulai dengan anak-anak kita sendiri ya mas. Tak perlu selalu mengeluhkan situasi dan kondisi yang sudah rusak sekarang ini. Lebih baik kita bekali anak-anak kita sendiri agar mampu menghadapi segala tantangan yang ada.

    Duuh, Dev cakep banget pakai baju tentara. Kelas berapa foto itu? Baru liat :)
    Sekarang sering mondar mandir ke Sawangan jadi suka telat baca tulisan mas Budhi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak hanya mengeluh dan menyalahkan keadaan tidak akan memberi solusi apa2, yg penting kita persiapkan generasi berikut sebaik2nya

      ini Dev kelas V SD mbak

      Delete
  15. hmm... aku ntar kalau punya anak juga mau begitu pak hehehe :)

    ReplyDelete
  16. Anak adalah titipan Allah dan harapan kita kelak jika nanti telah tiada. Maka sudah sewajarnya pendidikan akhlaq harus diberikan. Bagaimanapun juga kita nanti yang akan mempertanggungjawabkannya di hadapan sang maha pencipta nanti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mas, nak adalah amanah, yang bisa membawa kita menuju surga dan sebaliknya. maka butuh kesungguhan dan keseriusan

      Delete
  17. Aamiin semoga Devon dan semua anak2 Indonesia menggapai masa keemasan kelak. Alhamdulillah saya masih menyaksikan banyak orangtua sepeduli mas Insan. Rasanya berat ya mas, "berjuang" di zaman edan ini. Tapi insya Allah, Allah akan membantu niat tulus kita ya.

    Btw, saya ikutan ini juga.

    Moga menang yaa ^__^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan saya percaya mbak Niar dan keluarga lebih peduli dan lebih intens dalam mendidik putra-putrinya dibanding saya

      terimakasih mbak.

      Delete
  18. Aamiin YRA.. Sptnya kita mempunyai persepsi yang sama ttg pentingnya pendidikan buat anak. Anakku yg pertama juga aku masukkan ke KB-RA IT, skrng sudah kelas B, InsyaAllah nanti akan masuk ke SDIT pula. Tak apa biaya agak mahal, yg penting anak2 punya pondasi aqidah yg kuat, shg apappun kelak profesinya, anak2 ttp mengenal Allah dan Rasul-NYA, membawa kebaikan buat diri, klg dan lingkungannya...
    آمينَ.آمينَ.آمينَ... يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mas, kita bisa membandingkan nilai kebaikan putra-putri dengan materi. harta tidaklah langgeng tapi akhlak yang baik dan doa anak yang shalih akan abadi selamanya.

      Delete
  19. Selamat Anda terpilih sebagai juara 1 Semut Pelari Give Away Time...Silahkan langsung ke TKP untuk claim hadiah!
    http://semutpelari.blogspot.com/2013/08/pengumuman-pemenang-semut-pelari-give.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat ya papa Dev. Cerita tentang Dev memang layak jadi juara.

      Delete
    2. Alhamdulillah....
      terimakasih atas apresiasinya..

      Delete
  20. wah, ini toh pemenangnya...
    mantappp... ^_^

    ReplyDelete